Tampilkan postingan dengan label Infinite Light. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infinite Light. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2012

12 Nidana



Pratiyasamutpada
(12 Nidana)

by: Master Shi Lian Ming
@ Vajragarbha Shicheng Temple. Singapore

Marilah kita beranjali, sembah sujud kepada Mahamulacarya Liansheng Yang Penuh Budi Jasa ! Sembah sujud pada Para Buddha Bodhisattva mandala ! Sembah sujud pada Para Vajra Dharmapala, Para Dewa dan Naga Pelindung Dharma. Yang terhormat Acarya Lianlai, para biksu, Pandita Dharmadhuta Shifeng , Pandita Dharmadhuta Zhilong, Pandita Lokapalasraya Suicheng, ketua vihara Lianhua Lianxiang, ketua vihara Yuanxue – Lianxue, serta Ketua Vihara Singapore – Anna, beserta para pengurus, para umat sekalian, salam sejahtera semuanya !

Ini adalah pertama kalinya saya datang ke Singapura, juga pertama kalinya saya datang ke Viharavajragarbha Shicheng. Sejak lama saya sudah mendengar bahwa di Viharavajragarbha Shicheng ada seekor singa dan seekor Naga Emas, dialah Pandita Dharmadhuta Shifeng dan juga Pandita Dharmadhuta Zhilong, keduanya adalah orang yang sangat berbakat dan memiliki sumbangsih dalam aliran kita, mari kita beri aplaus.

Vihara ini sangat agung dan sangat istimewa, barusan mereka mengajak saya untuk melihat Usnisavijayadharani dan Acalanatha Vidyaraja , karena saya sendiri sangat menyukai Acalanatha Vidyaraja, maka saya juga sangat menyukai Viharavajragarbha Singapore (tepuk tangan hadirin) Ah ! Viharavajragarbah Yuanxue juga sangat bagus! (hadirin tertawa).

Kemarin kita membahas nidana sebelum pencerahan, yaitu ajaran dari Maitreya Bodhisattva mengenai jalan penerapan praktek, jalan bekal, memahami kebenaran, jalan penekunan dan jalan akhir, inilah lima tahapan proses. Kemarin kita juga membicarakan bagaimana menyempurnakan jalan penerapan dan jalan bekal, yaitu saptaryadana (Tujuh Kekayaan Suci) , saptaryadana ini dapat menyempurnakan jalan penerapan dan bekal, maka saat memasuki tahap pemahaman kebenaran akan lebih mudah. Kemarin juga dibicarakan bahwa banyak umat yang tidak mempunyai jodoh berkah (福緣) yang banyak , tidak mengerti koan Zen, sama sekali tidak ada jalan untuk menekuni metode Zen dengan baik, dia tidak mempunyai nidana untuk bertemu dengan seorang bijaksanawan pembimbing, pada saat demikian akan lebih sukar. Maka dari itulah Sakyamuni Buddha pada awalnya menggunakan beberapa tahun untuk menyebarluaskan metode Hinayana, yaitu empat bagaian Agama Sutra (阿含經), yang dibagi menjadi Dirgha Agama,Madhyam Agama, Samyukta Agama dan Ekottar Agama. Sesungguhnya Agama Sutra mengulas dua hal, yang pertama adalah Caturaryasatyani (Empat Kebenaran Mulia), yaitu sebab dukha-dukha-jalan menuju berakhirnya dukha dan berakhirnya dukha ; Yang berikutnya adalah mengenai Pratityasamutpada.

Kenapa Hinayana disebut sebagai yana kedua ? Yang pertama adalah karena ia bukan Buddha Dharma yang komplit ; Yang kedua adalah , kita mengenal yaitu Hinayana, Mahayana, sebenarnya masih ada satu lagi yaitu Navayana. Mahayana adalah Buddha Bodhisattva, Hinayana adalah sravaka dan Navayana adalah Pratyekabuddha. Namun kebanyakan pada umumnya tidak menyebut Pratyekabuddhayana sebagai Navayana, sehingga dinamakan dua yana, yaitu Sravaka dan Pratyekabuddha.

Sravaka ada empat, yang tertinggi adalah Arahat, Arahat adalah mencapai realisasi dari Caturaryasatyani, dengan urutan dukha-sebab-berakhir dan jalan menuju berakhirnya dukha, ada satu lagi urutannya adalah sebab dukha- dukha – jalan menuju berakhirnya dukha dan berakhirnya dukha. Sedangkan Navayana adalah merealisasi pratityasamutpada ( 12 sebab akibat yang saling bergantungan) , dimanakah letak perbedaan antara Pratyekabuddha dan Sravaka ? selain dari caturaryasatyani dan pratityasamutpada, yang paling utama adalah metode bhavana mereka. Sravaka membina diri sangat dekat dengan Buddha Bodhisattva , seperti sepuluh siswa utama, Lima Ratus Arahat, mereka semua suka mendekati Buddha, mendekati Bodhisattva dan bijaksanawan agung. Namun Pratyekabuddha berusaha sendiri dalam membina diri, Beliau tidak mendekati Buddha , Bodhisattva maupun Guru bijaksanawan. Inilah perbedaan yang lebih mencolok diantara keduanya.

Darimana sumber 12 nidana ? 12 nidana ada sumbernya. Yang pertama adalah dari Tripitaka 12 bagian, vinaya dan sastra. Sutra adalah disabdakan oleh Sakyamuni Buddha, sastra oleh Bodhisattva. Sutra-vinaya dan sastra ketiganya ini digabungkan, menjadi Tripitaka 12 bagian. 12 Nidana muncul dari dvadasangapratityasamutpadasastra, sastra ini dibuat oleh Jingyi Pusa (淨意菩薩). Sedangkan sumber kedua adalah Agamasutra. Keduanya adalah sama, hari ini dijelaskan dulu secara singkat mengenai pratityasamutpada.

Kenapa hari ini membahas mengenai 12 nidana ? karena seperti yang saya katakana barusan, jika tidak bisa mencapai pencerahan seketika, kita harus terlebih dahulu menyelesaikan masalah hidup dan mati. Saat Anda mampu menyelesaikan masalah utama dalam kehidupan dan kematian, maka tidak akan ada lagi kerisauan batin. Maka kita akan mempunyai lebih banyak waktu untuk menekuni Mahayana dan Vajrayana.  Jika masalah hidup dan mati belum terselesaikan, namun menggunakan banyak waktu untuk menekuni yang lainnya, itu  bukan sebuah cara yang baik.

Kemarin kita membicarakan nidana pencerahan, kita bisa sambil menyempurnakan nidana pencerahan, sambil menekuni Hinayana untuk memutuskan tumimbal lahir. Oleh karena itulah dalam Mahayana dan Tantrayana ada tiga hal yang penting :
Yang pertama adalah Bodhicitta.
Yang kedua adalah kemauan untuk meninggalkan fana.
Yang ketiga adalah madhyamika (jalan tengah).
Besok di Cetya Yuanzheng, akan dibahas mengenai yang utama diantara ketiganya ini, yaitu Bodhicitta.

Terhadap yang lain, kita harus melakukan segala sesuatu dengan Bodhicitta, tidak bisa mengatakan bahwa segalanya adalah hampa, kemudian sewaktu bertemu juga tidak menyapa, tiada apapun, bukannya semuanya adalah hampa ? Ini tidak benar!

Dalam batin kita juga harus meninggalkan kefanaan (tekad untuk terbebas dari tumimbal lahir),harus mempunyai tekad untuk mengatasi dan mematahkan tumimbal lahir. Kita harus menekuni 12 nidana, dikatakan sukar juga tidak, namun jika Anda katakana mudah, juga tidak sangat mudah.  Hari ini dijelaskan secara singkat mengenai 12 nidana, supaya setelah Anda sekalian memahami 12 nidana menjadi mengerti kenapa masih ada kelahiran dan kematian.

Saya akan terlebih dahulu menjelaskannya satu kali, yang pertama adalah Avidya (kegelapan batin). Dalam 12 nidana , Avidya ini disimbulkan sebagai seorang tua berambut putih, matanya buta, tidak bisa melihat, dia berada di sebuah tempat yang gelap, berjalan dengan perlahan menggunakan tongkat. Anda bisa bayangkan, seorang tua yang buta, berada di tempat yang gelap, tidak ada orang disampingnya, dia juga kesulitan berjalan. Demikianlah Buddha menggambarkan avidya kita para insan.

Kita sekarang punya mata untuk melihat, namun sesungguhnya kita tidak pernah mempergunakan mata sejati kita, kita semua sedang berjalan di dalam avidya. Apa itu avidya ? Avidya adalah kebodohan batin. Apakah itu kebodohan ? kebodohan adalah kondisi dimana tidak memahami kenyataan, sehingga bagaikan berjalan dengan tidak bisa melihat sekeliling, serba gelap, tidak mengetahui hendak berjalan kearah mana, ini sangat bahaya. Inilah yang pertama dalam 12 nidana, yaitu avidya.

Yang kedua adalah samskara, yaitu tindakan. Yang ketiga adalah vijnana atau pencerapan. Yang keempat adalah namarupa, yaitu dari kata nama dan rupa, nanti akan dijelaskan apa itu namarupa. Yang kelima adalah sadayatana. Yang keenam adalah sparsa, yaitu kesan. Yang ketujuh adalah vedana atau perasaan . Yang kedelapan adalah Trsna, yaitu menyukai atau kegemaran pada uang, nama dan banyak hal. Yang kesembilan adalah Upadana. Kesepuluh adalah Bhava, dalam  bahasa mandarin adalah dari kata “ada”. Yang kesebelas adalah Jati, yaitu kata “lahir” dari kata lahir-tua-sakit dan mati. Yang terakhir adalah Jaramarana yaitu usia tua dan kematian.

Avidya merupakan kebodohan, juga merupakan semua avidya yang dihasilkan oleh kesadaran. Kecenderungan juga menyebabkan avidya, sedangkan kecenderungan adalah dibawa dari kehidupan yang lampau.

Samskara adalah tindakan, karena Anda mempunyai kecenderungan avidya, maka Anda melakukan berbagai macam tindakan, ini tidak baik. Misalnya lobha , dosha dan moha semua adalah kecenderungan avidya kita yang menyebabkan Anda mempunyai tindakan demikian. Karena Anda mempunyai tindakan tersebut, maka melahirkan vijnana (pencerapan).

Apa itu vijnana ? vijanan adalah saat tubuh bardo hendak memasuki rahim, ia melihat ayah dan ibu yang bersatu, sehingga dia timbul rasa ketertarikan, maka ia memasuki rahim.

Namarupa : Nama adalah sesuatu dalam pikiran atau batin, sedangkan rahim itu adalah rupa. Saat itu, janin masih belum membentuk mata-telinga-hidung-lidah-tubuh dan pikiran, masihbelum ada tangan dan kaki, hanya berupa janin yang belum terbentuk. Namun saat itu, kesadarannya telah ada. Kesadaran ini masuk ke dalam rahim dan perlahan membentuk watak dan pikiran, kemudian dengan adanya janin ini, disebut nama dan rupa.

Sadayatana adalah enam indera. Mata-telinga-hidung-lidah dan tubuh, serta pikiran mulai muncul. Saat itu disebut sadayatana.

Sparsa adalah sentuhan (kesan). Saat bayi mulai lahir, dia mulai bersentuhan dengan segala sesuatu di luar, udara, bentuk, ayahnya, ibunya dan dia mulai bisa menyentuh benda. Saat itu dia mulai timbul kesan.

Kemudian adalah vedana, yaitu perasaan. Karena dia mulai timbul keakuan, yaitu tubuh yang diidentikkan dengan aku, maka mulailah timbul pandangan akan orang lain dan pandangan pribadi. Karena ia telah mempunyai keakuan, maka saat ia bersentuhan dengan sesuatu, mulai timbul ada yang dia sukai dan ada yang tidak dia sukai, inilah perasaan atau vedana.

Begitu ia menemui satu hal yang tidak ia sukai, maka ia akan timbul perasaan tidak suka ; Saat dia makan yang dia sukai, maka ia akan timbul rasa senang. Saat itu timbullah Trsna. Trsna ini bukan selalu menunjuk pada cinta antara laki-laki dan perempuan, melainkan rasa suka pada sadayatana (enam indera).   

Misalnya, ia menyukai makanan yang manis atau permen , timbul suatu kegemaran, kegemaran ini bisa menyebabkannya timbul kemelekatan. Seandainya di rumah Anda ada permen, anak Anda sangat menyukai permen, maka ia akan mengambilnya, setelah mengambilnya, maka ini disebut “bhava” dalam 12 nidana.

Jika dia telah memiliki benda tersebut dan direbut oleh orang lain, maka dalam batinnya akan menjadi tidak tenang. Saat batinnya tidak tenang, maka ia akan timbul pemikiran buruk, yaitu kebencian, gelisah dan rasa tidak senang. Saat itu, lobha, dosha dan moha makin muncul. Ataupun saat ia menginginkan sesuatu, namun tidak bisa memperolehnya, misalnya seorang pria menyukai seorang wanita, saat ia tidak bisa mendapatkannya, maka ia mulai timbul kegelisahan. Inilah kemunculan dari benih kelahiran kembali, kemudian karena munculnya benih ini, mulailah urutan yang kesebelas, yaitu “jati”, yaitu kelahiran.

Karena ia mempunyai benih tumimbal lahir, maka kelak dia masih bertumimbal lahir. Setelah dia terlahirkan kembali, masih bisa mengalami sebelas poin yang telah kita uraikan sebelumnya. Pada akhirnya masih sama yaitu jaramarana (tua/sakit dan mati). Karena kemelekatannya sendiri dan benih yang ditimbulkan dari lobha-dosha dan moha, maka ia akan mengalami tumimbal lahir.

Dalam Ksitigarbhasutra, dikatakan bahwa insan di dunia saha, yaitu kita ini, tiap pikiran dan tiap perbuatannya, semua adalah karmawarana. Dalam teks Pertobatan Kaisar Liang ada satu kalimat, saat pikiran kita menjadi tidak suci, maka di dalamnya terdapat batin yang tidak bersih dan lobha-dosa-moha. Ada keakuan, dasar dari keakuan, pikiran dan dasar dari pikiran, semua pikiran yang tidak baik, muncul dari satu pikiran ini. Tiap pikiran adalah dasar dari tumimbal lahir. Dalam satu hari, Anda mempunyai berapa pikiran ? Ada banyak sekali pikiran ! Dalam satu bulan, Anda mempunyai berapa banyak pikiran ? banyak sekali ! satu tahun atau seumur hidup, Anda mempunyai berapa banyak pikiran ?

Maka , benih yang dihasilkan oleh tiap bentuk pikiran, bisa menyebabkan Anda bertumimbal lahir. Kenapa demikian ? sebab tiap pikiran mengandung lobha-dosha-moha.

Saat anak terebut mengambil permen, ia telah timbul rasa kegemaran (trsna), timbul hasrat, maka ini menjadi “lobha”. Saat ia tidak bisa memperoleh permen tersebut, atau pada saat ia tidak bisa memuaskan keinginannya, maka akan menghasilkan “dosha” (kebencian). Pada saat dia tanpa henti terus mengejar ingin memuaskan nafsu keinginan ini, jadilah moha (kebodohan). Maka muncullah avidya, avidya (kegelapan batin) bisa merintangi nidana Anda untuk merealisasikan kebenaran. Karena tiap pikiran Anda mengandung lobha-dosha-moha, maka bertumimbal lahir. Jika tiap pikiran Anda adalah suci, Anda tidak akan bertumimbal lahir.

Maka penekun Hinayana yang sangat ketat, ia akan bertapa di pedalaman gunung. Kenapa mereka tidak begitu bersedia untuk mengikat jodoh dengan insan ? membicarakan Buddha Dharma, atau menyelamatkan insan ? Kenapa menjadi seorang yang mengutamakan penyelamatan diri sendiri ? Karena terlalu banyak berbicara baginya, bisa menyebabkan ikatan karma yang buruk, dia ingin memotong ikatan dengan dunia luar.  Saat makan, menghadapi makanan yang sangat lezat, ia memvisualisasikannya menjadi daging busuk yang sangat bau, maka pada saat memakannya ia tidak akan timbul lobha. Saat ia akan membatasi pembicaraan dengan orang lain. Sehingga dia tidak akan timbul lebih banyak pikiran yang menyimpang. Terhadap jubah, makanan, tempat  tinggal dan aktivitas, akan menjaga supaya tiada timbul kegandrungan, mematahkan kebencian, karena dia tidak menemui orang. Jika Anda berada di suatu wilayah tersendiri dimana tidak berinteraksi dengan orang luar, maka Anda akan bertengkar dengan siapa ? Benar tidak ? tidak akan mungkin bertengkar. Maka ia membabat lobha-dosha dan moha, saat itu dia akan dengan mudah menunggu sampai akhir usianya. Dia menekuni,empat meditasi dan delapan konsentrasi, dengan kekuatan empat meditasi dan delapan konsentrasi, memutuskan tiga ikatan.

 Apakah itu tiga ikatan ? yaitu satkayadrsti (kemelekatan pada eksistensi tubuh), keragu-raguan dan silavrataparamarsadrsti (kemelekatan pada aturan-aturan dan disiplin yang menyimpang) .Nama lain dari silavrataparamarsadrsti adalah pandangan salah mengenai bukan membawa pada pencerahan  namun dianggap sebagai sebab pencerahan(非因見因的邪見), yaitu pandangan salah yang ketiga.

Tiga ikatan ini adalah hal yang juga merupakan penyebab tumimbal lahir, yang pertama adalah Satkayadrsti , yaitu kemelekatan pada pandangan salah aakan tubuh , Karena ada eho, maka ada pandangan akan kepemilikan, karena ini maka ada lobha-dosha-moha.

Apa itu pandangan mengenai kepemilikan ? yang dimaksud sebagai ego adalah menunjuk pada tubuh dan pikiran Anda. Kepemilikan adalah seperti halnya saya mengatakan bahwa vajra dan gantha ini adalah miliki saya, uang ini adalah milik saya, Vihara ini adalah milik saya, rumah ini adalah milik saya . . . yaitu benda di luar dijadikan obyek kemelekatan diri Anda, inilah arti kepemilikan. Karena adanya keakuan dan kepemilikan, maka saat meninggal dunia akan timbul kemelekatan. “Aduh, bagaimana nasib anak saya nanti!” ; “Aduh bagaimana dengan pekerjaan saya nanti ?” saat itu timbul ketidak relaan, maka ia akan bertumimbal lahir. Banyak orang mengatakan : “Orang ini telah melukai aku demikian parah, bagaimana bisa saya melepaskannya begitu saja?” inilah bibit kelahiran kembali. Karena adanya lobha-dosa-moha.

Ketiga ikatan , yang pertama adalah pandangan akan “atman”, merupakan hal penting penyebab tumimbal lahir. Pandangan “atman” adalah kemelekatan pada “ego”, kedngaranya seperti jus buah (persamaan bunyi dengan bahasa . Kemelekatan akan “ego”, banyak orang menyebutnya sebagai kemelekatan. Sebenarnya makna lain dari “ego” adalah kemelekatan pada keakuan. Apakah itu kemelakatan pada keakuan ? yaitu Anda mengidentikkan bahwa mata-telinga-hidung-lidah-tubuh dan pikiran ini adalah “aku”. Bukannya yang biasa diucapkan oleh orang lain saat Anda merasa tidak gembira, “Aduh ! jangan melekat! Jangan melekat !” Melainkan pandangan kemelekatan dimana Anda menganggap ini adalah “aku”.

Misalnya, pada suatu hari Anda meninggal dunia, dikremasi menjadi abu. Begitu abu tersebar dan ditiup angin , dimanakah Anda ? Bagaimana bisa Anda masih mengidentikkan tubuh ini sebagai “aku” ? benar tidak ? Banyak orang yang mengira ini adalah “aku”, sehingga menimbulkan kemelekatan pada keakuan, maka kemelekatan akan “aku” ini merupakan akar tumimbal lahir.

Asalkan mematahkan keakuan, maka lobha-dosa dan moha tidak akan bisa timbul. Jika tidak ada “Anda” bagaimana bisa ada lobha-dosha dan moha ? Jika tidak ada “Anda”, maka mana ada yang disebut sebagai uang “Anda” ? mana ada rumah “Anda” ? mana ada anak “anda”? karena bahkan diri Anda telah tidak eksis. Maka kita seorang sadhaka haru tahu, bahwa “aku” bukanlah sejati , merupakan perwujudan sesaat, merupakan bentukan dari caturmahabhuta (tanah-air-api-angin).

Dalam aliran Zen kita ada satu kalimat : diluar adalah bentukan dari empat unsur, did alam adalah gabungan dari panca skandha (rupa-kesadaran-pencerapan-bentuk mental-perasaan) . Dari luar, Anda adalah bentuk dari gabungan unsur tanah-air-api dan angin. Empat unsur ini menunjuk pada tubuh Anda, kulit, daging, kerangka adalah unsur tanah. Darah dan cairan tubuh Anda adalah unsur air. Suhu badan Anda adalah unsur api. Nafas Anda adalah unsur angin. Yang diluar ini bisa terlihat. Sedangkan batin  adalah gabungan panca skandha, yaitu : rupa, vedana (kesadaran), samjna (pencerapan), samskara (bentuk mental) dan vijnana (perasaan).
Yang pertama adalah rupa, merupakan segala sesuatu yang bisa Anda lihat.
Vedana adalah adalah sesuatu yang bisa Anda rasakan.
Samjna adalah Anda bisa menggunakan otak Anda untuk berpikir.
Samskara yaitu aktivitas.
Vijnana adalah perasaan.

Kelimanya ini adalah palsu, maka empat unsur yang diluar adalah fana, kelima agrerat ini juga fana. Saat Anda meninggal dunia, keempat unsur ini tidak ada lagi, maka dimanakah Anda ? Kita jangan mengira bahwa empat unsur dan lima skandha ini adalah “aku”. Saat Anda tidak melekat lagi pada empat unsur dan lima skandha ini, maka Anda akan mempunyai hati yang lapang bagaikan angkasa. Karena anda sudah tidak mempunyai kemelekatan pada “aku”, pada “orang”, pada “subyek”, tidak ada lagi segala pandangan salah. Saat itu, mana ada rumahku, uangku, beban pikiranku, dan segala galanya milikku ? Maka saat Anda meninggal dunia, jika didalam batin Anda masih menyimpan kemelekatan, masih ada lobha-dosha dan moha, maka akan sangat sulit sekali untuk bertemu dengan Buddha. Jika dalam batin anda tiada lobha-dosha- moha dan kakacauan pikiran, tiada keakuan, tiada pandangan sesat akan keakuan dan orang lain, saat tiada semua kemelekatan, maka Amitabah Buddha akan mudah hadir dalam batin Anda , menjemput Anda menuju Sukhavatiloka untuk menekuni Mahayana di sana

Jumat, 16 November 2012

Mengambil Perlindungan (Taking Refuge)


Mengambil Perlindungan
(Taking Refuge)

Di dalam setiap tradisi buddhisme, terdapat pengambilan perlindungan kepada Sang Triratna / Tiga Permata yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha, yang mana ritual mengambil perlindungan (Sansekerta: Sarana) ini umumnya disebut sebagai Visudhi. Pada tulisan kali ini, akan dibahas menganai apa yang menyebabkan kita perlu mengambil perlindungan, apa itu mengambil perlindungan, hal yang harus dimiliki dalam berlindung, dan motivasi yang benar dalam berlindung

Mengawali pembahasan mengenai mengapa kita perlu mengambil perlindungan ini, pertama - tama perlu diketahui bahwa di dalam Buddhisme mengenal adanya 10 Penjuru Alam Dharma yang mana 10 Alam Dharma ini terdiri dari 6 Alam tumimbal lahir dan 4 Alam Suci. 6 Alam tumimbal lahir ini terdiri dari Alam Neraka, Alam Preta (setan kelaparan), Alam Hewan, Alam Manusia, Alam Asura (jin), dan Alam Dewa. 4 Alam suci merupakan 4 Alam yang menjadi tempat bagi 4 kelas makhluk suci, yaitu Sravaka, Pratyeka Buddha, Bodhisatva, dan Buddha. 6 Alam Tumimbal lahir atau 6 Alam Samsara, mengapa keenam Alam ini disebut sebagai Alam Samsara (Alam Penderitaan)? Karena di dalam setiap alam dari 6 Alam ini terdapat penderitaan yang tidak pernah berakhir. Di alam neraka, semua makhluk yang karena karmanya terlahir di alam neraka akan sangat menderita karena kepanasan dan kedinginan (tergantung dilahirkan di neraka panas atau neraka dingin), juga menderita karena berbagai siksaan - siksaan lain (gunung golok, rimba pedang, bajak lidah, dsb). Di alam preta atau setan kelaparan, semua makhluk yang karena karma nya terlahir di alam ini, akan sangat menderita karena meiliki perut yang buncit dan leher yang amat kecil, mulutnya mengeluarkan api, perutnya akan terus merasa lapar, namun tidak pernah bisa memakan apa pun. Di alam hewan, semua makhluk yang karena karma nya terlahir di alam ini, juga sangat menderita, mereka mengelami penderitaan seperti demangsa oleh hewan yang lebih besar,diburu oleh manusia, dan berbagai penderitaan lainnya. Di alam manusia, semua makhluk yang terlahir di alam manusia, seperti kita tentunya juga mengalami sangat banyak penderitaan, lahir, tua, sakit, dan mati, demikian juga saat keinginan kita tidak dapat terpenuhi, kita sebagai manusia akan merasa menderita, selain itu semua juga masih banyak berbagai bentuk penderitaan lainnya. Di alam asura semua makhluk yang karena karmanya terlahir di alam ini menderita karena sifat iri hati mereka (sidaf iri ini membuat mereka tidak merasakan kebahagiaan), selain itu mereka juga memnderita karena peperangan. Di alam Dewa, semua makhluk yang karena karma baiknya terlahir di alam dewa, meskipun alam ini adalah alam yang penuh dengan kebahagiaan, namun alam dewa masih termasuk sebagai alam samsara karena kebahagiaan yang dirasakan dengan terlahir di alam dewa tidaklah abadi, saat karma baiknya telah habis, maka mereka yang terlahir di alam dewa akan bertumimbal lahir di alam yang lebih rendah sesuai dengan karma nya, bahkan bila mereka memiliki timbunan karma buruk yang amat berat, dapat menyebabkan mereka bertumimbal lahir di alam neraka. 

Kita semua yang saat ini telah terlahir sebagai manusia, mungkin kita merasa kehidupan kita sudah cukup bahagia, kita hidup dengan berkecukupan, memiliki keluarga yang harmonis, namun apakah itu adalah kebahagiaan sejati? Tentunya tidak, kebahagiaan tersebut kita tidak pernah mengetahuinya, sampai kapan semua itu akan ada bersama kita. Mungkin saja tahun depan, bulan depan, minggu depan ataupun pada hari esok kita akan kehilangan semua itu dan kita tidak akan pernah mengetahui nya. Terlebih lagi pada kelahiran kita yang akan datang, tidak ada jaminan bahwa semua kebahagiaan itu akan tetap ada bersama kita. Jangankan untuk terlahir sebagai manusia dengan kehidupan yang bahagia, terlahir sebagai manusia saja sudah sangat sulit.

Kita semua yang telah terlahir sebagai manusian tentunya kita hendak mencari jalan pembebasan dari penderitaan, cara untuk terbebas dari kelahiran di 6 Alam Samsara, oleh karena itulah kita perlu untuk mengambil perlindungan kepada Buddha Dharma dan Sangha. Karena hanya Buddhadharma yang dapat membawa kita pada pembebasan, membawa kita untuk meninggalkan 6 Alam Samsara. Perlu kita pahami, bahwa hanya di alam manusialah kita dapat melakukan praktik buddhadharma yang dapat membawa kita pada pembebasan dari 6 alam samsara (Nirvana / Nibbana). Mengapa demikian? Karena bila kita terlahir di 3 Alam rendah (Alam neraka, preta, hewan) di semua alam ini sudah sangat menderita dan tidak mungkin lagi dapat berpikir untuk melatih diri, sedangkan di dua alam lainnya, yaitu alam Asura dan Alam Dewa, di alam Asura mereka yang lahir di sana memiliki ras airi hati yang tinggi dan sangat suka berperang sehingga mereka tidak akan berpikir untuk melatih diri, sedangkan di Alam Dewa, mereka yang lahir di sana akan sangat terlena menikmati kebahagiaan, sehingga mereka tidak akan pernah berpikir untuk melatih diri, tidak akan pernah berpikir untuk mencari pembebasan dari penderitaan, karena mereka merasa kehidupan mereka sebagai dewa sudah sangat bahagia. Sedangakn di alam manusia, walaupun masih ada penderitaan, namun penderitaan yang ada di alam manusia, tidak seberat penderitaan yang ada di 3 alam rendah dan di alam manusia, semua makhluk yang terlahir di sana juga tidak akan merasakan kebahagiaan seperti di alam dewa, oleh karena itulah, hanya alam manusia yang dapat menjadi tempat untuk melatih diri, tempat untuk melakukan praktik buddhadharma untuk mencapai pembebasan. Dengan adanya penderitaan dengan takaran yang tepat (tidak terlalu berat ataupun terlsau ringan) barulah dapat melatih diri dengan baik.

Kita harus mengetahui bahwa saat ini, kita yang terlahir sebagai manusia dan dapat bertemu dengan buddhadharma (berjodoh dengan buddhadharma), kita semua telah memiliki tubuh manusia yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada permata pengabul harapan, karena hanya dengan tubuh manusia kita inilah kita dapat mencapai Pembebasan Sejati, kita lihat Guru Agung kita, Sang Buddha Sakyamuni, beliau merealisasikan Ke Buddha an di alam manusia. Oleh karena itu kita harus mendayagunakan tubuh manusia kita yang amat berharga ini untuk mencapai pembebasan sejati dengan melakukan praktik Buddhadharma yang dapat membawa kita pada pembebasan dan untuk mengawali semua itu, pertama kita perlu berlindung kepada Sang Triratna (berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha) karena berlindung kepada permata - permata mulia (Triratna) merupakan pintu gerbang bagi seluruh ajaran dan praktik dharma.

Apa itu mengambil perlindungan (bersarana)? Banyak orang yang bersarana (Menerima Visudhi Trisarana) hanya sebagai bentuk ritualisme dan tidak mengetahui kepada siapa sebenarnya ia berlindung dan tidak memahami makna sejati dari berlindung / bersarana tersebut. 

Pertama kita bersarana kepada buddha, yaitu Buddha Sakyamuni, karena buddha sakyamuni telah parinirvana 2500 tahun yang lalu, banyak orang beranggapan bahwa kita bersarana kepada pratima (rupang)Buddha, pratima terbuat dari benda material (kayu, logam, keramik, dsb) yang bisa rusak, saat pratima rusak, kita merasa sarana kita pun rusak. Sebenarnya kita harus mengerti bahwa bersarana kepada buddha bukan bersarana kepada pratima, tetapi bersarana kepada kesadaran buddha yang dilambangkan oleh pratima, bisa juga dikatakan bersarana kepada semangat Buddhadharma.

Apa itu bersarana kepada dharma? Bagi pemula agama buddha mereka akan menganggap bersarana kepada dharma adalah bersarana kepada tripitaka yang isinya disabdakan Buddha (Bersana kepada benda, yaitu Tripitaka). Namun Tripitaka terdiri dari kata - kata yang sangat sulit dimengerti dan bila tidak memahami kata - katanya tidak akan muncul pahala dari membaca Tripitaka, oleh karena itu kita harus memahami bahwa bersarana kepada dharma adalah bersarana kepada buddha dharma (Ajaran yang sebenarnya tidak memiliki wujud fisik), misalnya 12 Nidana, 4 kebenaran mulia, dsb yang mana ajaran tersebut bila kita praktekkan akan dapat membawa kita pada pembebasan sejati.
Apa itu bersarana kepada sangha? Banyak orang mengira sangha adalah bhiksu / bhiksuni awam, banyak orang beranggapan perbuatan bhiksu / bhiksuni tidak mampu membuatnya tergerak untuk bersarana, banyak orang merasa ucapan bhiksu / bhiksuni tidak membuatnya ingin bersarana. Sebenarnya sangha ini mengacu kepada Arya Sangha, yaitu Bodhisatva. Bodhisatva yang dimaksud di sini ialah Bodhisatva yang telah mencapai Pencerahan (Enlightment) seperti Avalokitesvara Bodhisatva, Manjushri Bodhisatva, Ksitigarbha Bodhisatva, semuanya merupakan arya sangha, telah memahami jati diri dan menyaksikan buddhata (明心見性 / ming xin jian xing). 

Hal terpenting dari mengambil perlindungan terletak pada keyakinan kita kepada Tiga Permata tempat kita berlindung (Triratna), kita harus dapat memilki keyakinan yang muncul dari dalam hati. Guru Agung dari. Oddiyana (Padmasambhava) pernah berkata:
Keyakinan berupa penyerahan diriSepenuhnya memungkinkan berkah - berkahSpiritual memasuki diri anda.Apabila pikiranmu bebas dari keraguan,Harapan Apapun akan terkabul.
Keyakinan adalah benih yang memungkinkan segala kebajikan bertumbuh. Apabila tidak ada keyakinan, diumpamakan seperti benuh yang telah terbakar. Sebagaiman disebutkan di dalam Sutra:

Barangsiapa yang tidak memiliki keyakinanya
Tiada satupun kebajikan dapat tumbuh,
Layaknya benih terbakar
Tak satupun tunas hijau akan tumbuh darinya.

Keyakinan adalah hal yang paling berharga di antara seluruh harta keayaan kita, karena keyakinan dapat memunculkan pahala kebajikan yang tak terhingga, laksana harta pusaka. Ia membawa kita untuk menapaki jalan menuju pembebasan, seperti sepasang kaki, serta mengumpulkan segala kebajikan bagaikan sepasang tangan. 

Perlu kita ketahui bahwa, sekalipun Belas Kasih dan Berkah sari Sang Tiga Permata sungguh tak terperikan, namun sejauhmana kita dapat menerimabelas kasih dan berkah dari Sang Triratna adalah bergantung pada keyakinan dan penyerahan diri kita. Bila kita sungguh memiliki devosi yang penuh keyakinan maka kita barulah dapat menerima belas kasih dan berkah dari sang tiga permata secara utuh. Namun bila kita tidak memiliki keyakinan, sekalipun berjumpa dengan Sang Buddha sendiri dan diterima sebagai murid Nya, kita tetap tidak akan pernah mendapatkan manfaat apapun. Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha sangat luas dan dalam, tak betepi dan hanya dengan keyakinan barulah dapat menyelaminya. Sebagaimana dikatakan snag Buddha kepada Sariputra di dalam Sutra:

Wahai Sariputra, kebenaran absolut
Hanya direalisasikan melalui keyakinan.

Satu hal yang juga amat penting dalam mengambil perlindungan adalah motivasi kita dalam mengambil perlindungan tersebut. Motivasi yang paling baik adalah kita menyadari bahwa kita dan semua makhluk saat ini terbenam dalam lautan Penderitaan dan saat ini kita mengambil perlindungan bukan hanya demi mencapai pembebasan bagi diri kita sendiri, tetapi juga demi membawa semua makhluk kepada pembebasan sejati. 

May all sentient beings always in happiness! Om Mani Padme Hum

Selasa, 08 Februari 2011

8 Manifestasi Guru Padmasambhava


8 Manifestasi Guru Padmasambhava



蓮花生亦名為蓮師或海生金剛,釋迦牟尼佛曾預言此上師將把佛法傳入西藏。烏仗那國的帝釋力國王由於幼子早逝及國家面臨嚴重飢荒,而歷經人生種種考驗。觀世音菩薩因悲憫國王,祈求阿彌陀佛慈悲救度,於是阿彌陀佛從舌間發光射向達那郭夏海,海中即現一朵大蓮花,花上端坐一位八歲的小孩。小孩被國王帶回宮中如親子般撫養,也因其出生事蹟而名為蓮花生。

蓮花生長大後逐漸理解無常即娑婆苦惱之本質,因此為教導困於娑婆苦海的眾生領悟佛法而放棄王位和家人。經過數年的傳法,蓮花生因由各別特殊機緣得到不同的尊稱以代表他在佛法各方面的證量。

蓮花生大士所化現的海生金剛是西藏偉大上師與佛陀之顯現,其右手持金剛杵,代表堅固不變的究竟實相之本質,左手持顱器,左肩有三叉杖靠著,由兩位明妃和八位主要神變圍繞,這一切皆是幫助修行者了悟本性的表徵。

Padmasambhava (Guru Rinpoche) disebut juga sebagai Padmaguru dan Sagarasambhavavajra (Haisheng Jingang ~ Vajra Guru yang Terlahir dari Samudera) . Sakyamuni Buddha pernah meramalkan bahwa kelak Sang Guru ini akan membabarkan Dharma ke Tibet.
Di Uddiyana, putera Raja Indrabhuti mati muda, terjadi bencana kelaparan dan berbagai macam petaka. Avalokitesvara Bodhisattva berbelas kasihan dan memohon kepada Amitabha Buddha untuk menolong mereka, maka Amitabha Buddha memancarkan sinar dari lidah ke arah Samudera Danakosha , kemudian munculah sekuntum teratai besar dan diatasnya berdiri seorang kumara yang agung. Kumara tersebut dibawa ke istana oleh Raja Indrabhuti dan dibesarkan seperti puteranya sendiri, oleh karena fenomena yang istimewa mengiringi kelahirannya, maka Kumara tersebut dinamakan Padmasambhava.

Setelah Beliau beranjak dewasa, Beliau memahami menganai anitya dan dukha, maka demi mengajarkan Buddha Dharma kepada para insan supaya terlepas dari dukkha , Beliau melepaskan kedudukan Raja.

Dalam masa pembabaran Dharma Nya, oleh karena nidana yang istimewa, Padmaguru menerima gelar sebagai bukti realisasi Nya dalam Buddha Dharma.

Sagarasambhavavajra adalah Padmaguru sebagai Mahaguru manifestasi dari Sakyamuni Buddha, tangan kanan membawa vajra, sebagai simbol sunyata yang kokoh tak berubah. Tangan kiri membawa kapala dan mengapit Khatvanga Trisula, ada dua Vidyarajni mengiringi dan Delapan manifestasi mengelilingi, semua ini merupakan simbol untuk membantu para sadhaka menyadari Sifat Sejati.


蓮花鄔金金總持
(Lian Hua Wu Jin Jin Gang Zong Chi ~ Guru Uddiyana Vajradhara ~ Guru Orgyen Dorjechang)
花生大士為了更深入理解佛法決定起程到本初佛普賢如來的淨土-色究竟天-參學普賢如來是一切佛法的源流蓮花生大士在色究竟天精通大瑜伽密續的心要進入三三摩地中最後體證一切聲音為咒語普賢如來教導蓮花生大士如何與五在定佛融合為一無二無別並授記他為上師鄔金金持即來自鄔金的金剛持者通常身現藍色擁抱白色明妃其右手持金剛杵左手持鈴明妃手執顱器

蓮花生這時證得十八如來之成就獲得普賢如來之密名

Demi lebih pemahaman terhadap Buddha Dharma yang lebih mendalam, Padmasambhava memutuskan untuk belajar ke Tanah Suci Samanthabadra Tathagata yang terletak di Surga Akanistha. Samanthabadra Tathagata merupakan sumber dari semua Dharma Buddha. Di Surga Akanistha, Padmasambhava menguasai semua kiat Mahayogatantra, memasuki Samadhi dan merealisasikan semua suara menjadi suara mantra. Samanthabadra Tathagata mengajarkan kepada Padmasambhava bagaimana menyatu dengan Pancadhyani Buddha dan memberikan vyakarana sebagai Guru Uddiyana Vajradhara (Vajradhara dari Uddiyana) , bertubuh biru, memeluk Vidyarajni Putih, tangan kanan membawa Vajra dan tangan kiri membawa gantha. Sedangkan Vidyarajni membawa kapala.

Padmasambhava telah merealisasikan keberhasilan Tathagata bhumi 18 , maka disebut juga sebagai Samanthabadra Tathagata.


蓮花生貝瑪桑巴哇
(Lian Hua Sheng Bei Ma Sang Ba Wa~ Padmasambhava ~ Pemasambhava)


蓮師身穿佛陀的三衣,蓮花生上師(Guru Padmasambhava)法號"蓮花生" 藏音:"貝瑪桑巴哇"(Padmasambhava),集一切知識於一身的蓮花生上師,著比丘裝,頭戴紅色通人冠,身穿密乘衣,右手持充滿甘露的顱器,左 手結施法印,半跏趺坐姿。藏史云:大教主貝瑪桑巴哇,從教主巴爾巴哈帝,所聞密法續部甚多,且從國王因紮菩提(King Indrabhuti,即其義父)聞法。

Padmaguru memakai jubah lapis tiga seperti Buddha, dengan nama keagungan Guru Padmasambhava, yaitu Guru yang merupakan kumpulan semua pengetahuan dalam satu tubuh, memakai jubah biksu dan jubah tantra, mengenakan mahkota merah. Tangan kanan membawa kapala yang berisi penuh dengan amrta, tangan kiri membentuk mudra memberi ajaran, duduk setengah bersila.

蓮花王上師
(Lian Hua Wang Shang Shi ~ Guru Padma Raja ~ Guru Pema Gyalpo)


蓮師身穿的藍色法衣,代表其第三種化現,法號為“蓮花王”。

藏音:“白瑪嘉波”(Pema Gyalpo),統治三世三界的蓮花王,著國王裝束,纏頭巾,戴寶冠珠鍊,右手持雙面頭骨鼓,左手持寶鏡,國王坐姿。

藏史雲:

當蓮花生大士抵達烏仗那國後,他的出現立即終止飢荒,國家馬上恢復繁榮。這種種興旺盛況促使帝釋力王為兒子安排與品德兼優的持光女公主成婚,從此蓮花生大士得名蓮華國王,其左手持明鏡,右手高舉大顱鼓。

蓮花生大士不久後就對宮裡的生活感到憂慮不安,因為他發現身為國王是無法了脫生死,因此決定設法離開王宮。當時印度的法律規定殺人犯必須被放逐,於是蓮花生大士故意殺死一個男孩,這男孩基於所造諸惡業注定往生惡道,但因被蓮花生大士殺死,他結果往生至佛陀淨土。蓮花生大士從此被放逐出境,自由自在毫無約束地尋求證悟解脫之道。


Padmaguru mengenakan jubah biru yang menyimbulkan manifestasi yang ke 3 sebagai Padmaraja (Pema Gyalpo). Padmaraja yang memimpin Triloka Tiga Masa (lampau, sekarang dan yang akan datang). Memakai jubah kebesaran Raja dan segala perhiasan serta atributnya. Tangan kanan membawa damaru dari tengkorak, tangan kiri membawa cermin mestika, dengan posisi duduk seorang Raja.

Dalam sejarah Tibet dikatakan :

Saat Kumara Padmaguru tiba di Uddiyana, dengan seketika bencana kelaparan terhenti dan negara kembali makmur. Oleh karena kondisi negara yang semakin membaik, maka Raja Indrabhuti berpikir untuk menikahkan Padmasambhava dengan istri yang sempurna, yaitu Puteri Bhasadhara. Sejak saat itu Padmaguru memperoleh gelar sebagai Padmaraja.

Namun tak berapa lama, Beliau mulai berpikir bila menjadi seorang Raja , maka tidak akan sanggup terbebas dari tumimbal lahir dan menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi para insan, sehingga Beliau memutuskan untuk meninggalkan istana .

Namun ayahnda Baginda Raja tidak memberikan ijin. Maka dalam satu hari itu Beliau menciptakan lalita tandava (Tarian permainan kosmik) , dengan ilusi membunuh anak menteri mara yang selalu berbuat onar dan sudah pasti akan terjerumus dalam alam rendah, dan menyeberangkan kesadarannya ke alam Surga Akanistha. Oleh karena itulah atas dasar hukum saat itu, membunuh maka harus diasingkan, maka Padmasambhava pun dapat memperoleh kebebasan dalam menekuni Dharma di pengasingan Nya.


釋迦獅子

(Shi Jia Shi Zi ~ Sakyasimha ~ Sakya Senge)





釋迦獅子,藏音:“夏迦星給”(釋迦聖吉),法身裝束,頂髻,具足三十二妙相和八十種隨好,右手持金剛杵結施願印,左手托缽,金剛跏趺坐姿。

藏史雲:蓮師赴孟加拉從巴爾巴哈帝論師出家,號“釋迦獅子”。從八大持明受八部修行密乘,從佛密論師受幻化網密續,從師利辛哈受以大圓滿為主的眾多顯密經教。

據說也有兩種記載。第一種說法是當蓮花生大士以蘇梅扎菩薩身顯現時,自阿難尊者處獲得四種法 - 輪,四聖諦,十二因緣緣起法等教授後,證獲釋迦師子之形象。

第二種說法來自另一本經典,其中提及當蓮花生大士放棄羅剎鬼的形象後,得帕拉哈巴斯帝比丘授予真性要集及瑜伽密續的心要,蓮花生大士獲得指示後在未入定的狀況下,立即觀見瑜伽密續的卅七本尊,故此得名釋迦師子


Guru Sakyasimha adalah salah satu manifestasi Padmasambhava yang dalam bahasa Tibet disebut Sakya Senghe. Terbentuk usnisa di kepala, berjubah Dharmakaya, memiliki 32 tanda Devatimsamahapurissalaksana, tangan kanan membawa vajra dengan mudra memberi , tangan kiri membawa patra. Duduk dengan sikap Vajrasana.


Menurut catatn sejarah Tibet :

Padmasambhava menuju ke Benggala menerima upasamapada dari Guru Baerbahadi, dengan nama Sakyasimha, menerima delapan bagian tantra dari Delapan Resi Mantra Agung, menerima Mahamayatantra dari Guru Fomilun, dari Srisingha menerima ajaran sutra esoterik dan eksoterik dengan Mahaparipurna sebagai yang utama.


Ada lagi dua peristiwa, yaitu :

1. Dari Arya Ananda menerima Empat macam Dharmacakra, caturaryasatyani , paticcasamupada dan lain sebagainya, barulah kemudian memperoleh keberhasilan rupa Sakyasimha.


2. Dari kitab yang lain disebutkan bahwa setelah Padmaguru melepaskan rupa rakshasa, Beliau memperoleh Kumpulan Kiat Sifat Sejati dan Yogatantra dari Biksu Balabahasidi , setelah memperolehnya, didalam kondisi belum memasuki samadhi, Beliau memperoleh pengelihatan 37 yidam Yogatantra, oleh karena itulah disebut sebagai Sakyasimha.


日光上師
(Ri Guang Shang Shi ~ Guru Surya Rasmi ~ Guru Nyima Ozer)


蓮花生大士在寒林墳地僅用棉製的裹屍布披身
食人們遺留給往生者的供品其瑜伽密行神速進展結果調伏眾空行母使之成為護法另有數據記載蓮花生大士於此寒林墳地顯露恐怖的羅剎鬼形象其身披人皮手執一弓與五支鐵箭

後來蓮花生大士起程到位於寶益達國的聚身屍林其中央有座普陀寶塔蓮花生大士在此為眾空行母說法五年被尊稱為日光上師或'太陽之金光',其右手持三叉杖左手放射如太陽般的光芒通常以大成就者形象顯現身形稍顯瘦弱

Padmasambhava membina diri di pekuburan, kulit sebagai jubah Nya, bekas persembahan yang ditinggalkan di kuburan sebagai makanan Nya, yogi tantrik ini dengan cepat mencapai kemajuan, bahkan menaklukan berbagai dakini supaya menjadi Pelindung Buddha Dharma. Padmasambhava di areal pekuburan menampilkan rupa raksasa yang menakutkan, tubuh berbalut kulit mayat, tangan membawa sebuah busur dan lima anak panah.


Kemudian Padmasambhava menuju ke areal penumpukan mayat yang ditengahnya terdapat Stupa Ratna Pota, disitulah Padmasambhava membabarkan Dharma kepada para dakini selama lima tahun dan dijuluki sebagai Guru Surya Rasmi (Guru Cahaya Keemasan Matahari), tangan kanan Nya membawa trisula Khatvanga, tangan kiri memancarkan cahaya matahari, senantiasa muncul dalam rupa seorang Mahasiddha bertubuh kurus.


愛慧上師
(Ai Hui Shang Shi ~ Guru Loden Chogse)


蓮師腰間有金剛寶杵,代表上師的第六種變身,法號為"愛慧"。蓮師八變--愛慧上師 (Guru Loden Chogse)博學者愛慧,藏音:"羅登楚瑟"(Loden Chogse),著上師咒裝,右手持雙面頭骨鼓,左手持顱碗,國王坐姿。藏史云:蓮師從室利辛哈(Shri Simha)受以大圓滿為主的眾多顯密經教。雲遊孟加拉及鄔丈那等地,教化有緣歸依佛門,人稱"蓮花王"


Di pinggang Padmaguru terdapat sabuk mustika vajra merupakan manifestasi keenam dari Yang Arya dengan julukan Guru Loden Chogse, tangan kanan membawa damaru kapala dua sisi, tangan kiri membawa mangkuk kapala, duduk dalam posisi raja.

Menurut catatan sejarah :

Dari Guru Sri Simha, Padmaguru menerima ajaran esoterik dan eksotrik dengan Mahaparipurnatantra sebagai yang utama. Melakukan perjalanan menuju Benggala dan Udiyanna, menyelamatkan yang berjodoh untuk bersarana kepada Triratna, orang memanggil Nya "Padmaraja."


忿怒金剛
(Fen Nu Jin Gang ~ Vajra Krodha ~ Dorje Drollo)





蓮師外現靜善忿怒相,代表上師的第七種變身,法號為"忿怒金剛"

蓮師八變--忿怒金剛上師(Guru Dorje Drollo)

忿怒金剛,藏音"多傑卓勒"(Dorje Drollo)是蓮花生大師的忿怒化現,譯為金剛力士。一頭二臂三目,身棕紅色,上披棕色錦袍,下身著舞裙,右舉天鐵金剛杵,左持普巴撅,踏於母虎之背,以蓮花口輪天魔座,安住智能烈焰中。

本尊功德為:能將地水火風四大病氣消除,轉五毒為五智,摧伏死魔、天魔、煩惱魔、大力鬼神等,特別降服不相信佛法作障礙之眾。

忿怒蓮師"多傑卓勒"為蓮師八變之一,此乃蓮花生大士的忿怒化現,屬寧瑪巴(紅教) 巖傳法門。經典記載其化現的地方為墳地"讓卡這",在不丹王國附近地名(門巴都達昌),有很多危害眾生之邪神惡鬼和毀壞佛法製造障礙之眾。 而蓮師弟子降服一切邪惡眾生,變現此忿怒本尊。


Rupa Padmaguru dengan mimik krodha merupakan manifestasi yang ketujuh, dengan gelar "Vajra Krodha"


Fennu Jingangshangshi atau Guru Dorje Drolo merupakan manifestasi krodha dari Padmaguru, satu kepala dua lengan, mengenakan jubah merah kecoklatan, tubuh bagian bawah mengenakan jubah tarian, tangan kanan membawa vajra, tangan kiri membawa vajraphurba, menunggangi induk macan, berdiam dalam api kebijaksanaan.


Guru Dorje Drollo mempunyai kemampuan menyingkirkan penyakit dari keempat unsur, mengubah lima racun menjadi lima kebijaksanaan, menaklukan mara kematian, mara dewaputra, mara kerisauan, setan Mahabala dan lain sebagainya, terlebih adalah menaklukan makhluk yang tidak percaya dan selalu merintangi Buddha Dharma.

Dalam kitab tercatat lokasi manifestasi ini di areal pekuburan Rangkazhe, di sebuah tempat dekat Bhutan, dimana terdapat banyak dewa dan setan serta orang - orang yang suka merintangi dan merusak Dharma.


獅子吼聲
(Shi Zi Hou Sheng ~ Simhahanada ~ Senge Dradog)


蓮花師身上的虎皮嚴飾,則代表上師的第八種變身,法號為"獅子吼聲"蓮師八變--獅子吼聲(Guru Simhanada)

獅子吼聲藏語稱"星給紮佐"(Senge Dradog);藏史云:在金剛座有五百外道導師反對佛法,蓮師與之辯論及此法力,均勝之,彼等乃念惡咒修行作為抵禦。

時空行母頓都瑪獻極極猛烈咒,蓮師遂以此咒回遮,念咒時天空突然霹靂一聲,外道全被消滅,城市起火,餘人盡皈依佛教,於是即在其地,高樹法幢,因此又名獅子吼聲。其為蓮花生大師之忿怒化現。


Padmaguru yang mengenakan kulit macan sebagai gaun ini merupakan manifestasi kedelapan, dengan gelar : Guru Simhanada (Shizihousheng) atau Senge Dradog.

Dalam catatan sejarah disebutkan : Di Vajrasana ada lima ratus kaum sesat yang menentang Buddha Dharma, Padmaguru berdebat dan memperoleh kemenangan, namun mereka semua membalasnya dengan mantra dan doa doa jahat penuh kelicikan. Saat itu Dakini mewariskan mantra yang sangat keras, Padmaguru dengan menggunakan mantra ini membalikkan semua kutukan dari kaum sesat, saat mantra dijapakan tiba-tiba suara halilintar bergemuruh, kaum sesat termusnahkan semua oleh api, yang tersisa bersarana pada Triratna, sehingga di tanah itu didirikan Panji Dharma, oleh karena itulah Beliau dinamakan Simhanada. Merupakan manifestasi krodha dari Padmaguru.



Om Ah Hum Biezha Gulu Beima Xidi Hum Xie
Om Ah Hum Vajra Guru Padma Siddhi Hum Hrih
Om Ah Hung Benza Guru Pema Siddhi Hung Hrih

Jumat, 22 Oktober 2010

Penjelasan Teknik Visualisasi


Teknik Visualisasi


Teaching by: HE. Zurmang Gharwang Rinpoche XII


Adapun topik yang akan kita bahas selama 2 malam ini adalah :
Teknik meningkatkan visualisasi dengan menerapkan metode tertentu



  1. Teknik melafal dan menvisualisasi mantra

  2. Teknik peleburan dan mengakhiri latihan

  3. Jadi kita akan membahas dari pendahuluan, hingga ke pembahasan lanjutan untuk semua tingkat praktisi.

Mungkin kadang-kadang kata-kata yang dipakai disini akan terdengar agak unik daripada kata-kata yang kita pergunakan setiap harinya. Kata-kata di sini akan sangat erat berhubungan dengan Tantra, tapi saya yakin tidak akan menjadi masalah nantinya.


Menurut sekolah Tantrayana, yang juga dikenal dengan Jalan Singkat Mencapai Pencerahan, latihan yang kita lakukan untuk memperoleh Pencerahan mencakup:
*Metode - tahap pembangkitan
*Kebijaksanaan - tahap penyelesaian (penyempurnaan)
Dengan bergatung pada latihan tersebut di atas, kita dapat mencapai pencerahan. Juga sebagai dasarnya, seseorang diharapkan untuk menjalankan latihan dasar (pendahuluan) dari latihan 4 Dasar (Four Foundation) ini, untuk melepaskan semua hal-hal yang bersifat duniawi (sejauh kita masih melekat). Latihan dasar ini adalah sangat penting sekali. Kita hendaknya memandang samsara ini bukanlah sebagai sesuatu yang indah, tapi penuh dengan ular berbisa, api yang membara. Jika kita memandang samsara ini sebagai sesuatu tempat yang indah, kita tidak akan dapat melatih untuk masuk ke Mahayana ataupun Bodhisatvayana, membangkitkan Boddhicitta.
Pertama-tama, carilah seorang guru, terima inisiasi dariNya, dengan demikian anda secara otomatis masuk ke jalan Vajrayana. Itulah sebabnya banyak yang menekankan pada latihan dasar dari pada latihan aktualnya. Membangun sebuah rumah haruslah membangun pondasi/dasarnya dulu.
Kenyataan yang terjadi diseluruh belahan dunia, banyak yang setelah menjalankan latihan selama 5 tahun, menjadi malas dan menyerah. Ini disebabkan karena tidak memiliki dasar yang kuat. Tidak mengetahui segala yang tidak baik dari samsara.
Untuk masuk ke 3 topik inti diskusi kita, kita harus mendiskusikan terlebih dahulu persyarataan awalnya. Ini sangat penting, terutama bagi para pemula yang baru pertama kali menjalankan latihan yidam atau retreat yidam.
Tempat adalah sangat penting. Tempat yang tenang, tidak ada gangguan dari luar. Kita tidak akan bisa berlatih bila berada di tempat yang banyak orang. Juga tidak boleh menyalakan televisi maupun menerima telepon. Jika tv dan telepon tetap menyala, anda tidak akan bisa menjalankan latihan. Itulah sebabnya kenapa kita membangun vihara/ monastery jauh dari kota.
Juga bila ada kesempatan, lakukanlah latihan ini di tempat-tempat suci, efeknya akan jauh lebih besar. Menurut Padmasambhava, menjalankan latihan di tempat suci 1 hari adalah sama dengan menjalankan latihan 1 tahun di tempat pada umumnya. Itulah sebabnya kenapa orang-orang memilih tempat suci untuk menjalankan latihannya.


Waktu adalah penting. Ketika kita mau memulai latihan, hendaknya cari waktu yang baik. Minimal lakukan pada awal bulan, bukan pada akhir atau pertengahan bulan berjalan. Atau mulailah pada hari-hari suci seperti pada hari Waisak dan sebagainya. Untuk para praktisi yang sudah mahir, waktu kapan saja adalah sama, namun tidak demikian halnya bagi para pemula.
Munurut Sutra Alangkara, dikatakan bahwa untuk menjalankan latihan, carilah suatu tempat yang mudah untuk memperoleh makanan, yang tidak ada perampokan, yang tidak ada serangganya. Juga carilah teman-teman yang melakukan latihan yang sama. Carilah tempat, di mana tidak ada orang di siang hari dan tidak ada serangga di malam hari. Kadang kala mungkin kita tidak akan dapat menemukan tempat yang demikian, tapi minimal carilah suatu tempat yang tenang. Ini permulaannya.
Kemudian panjatkan doa permohonan kepada Guru atau Yidam, "Saya disini menjalankan latihan, bukanlah semata-mata untuk latihan saja, tetapi adalah untuk memperoleh kemajuan dan memperoleh pencapaian".
Kemudian persyaratannya adalah, minimal kita harus memiliki gambar deity, dan kalau bisa, memiliki altar, itu adalah yang terbaik. Jika tidak memungkinkan bagi kita untuk memiliki altar, bisa juga kita buat altar di dalam lemari, yang mana saat kita mau latihan bisa kita buka, kemudian setelah selesai, kita tutup kembali. Jika semua yang tersebut diatas sama sekali tidak dapat di sediakan , maka cukup pakai pembayangan saja. Jika bisa memiliki sebuah patung Buddha adalah baik, tapi jika tidak memungkinkan, cukup dengan visualisasi saja. Kemudian minimal kita memiliki seuntai mala (tasbih), ini sangat penting sekali, kita tidak boleh menggunakan counter. Inilah objek-objek yang perlu kita persiapkan



Latihan Aktual


Latihan aktual mencakup pembahasan dari 2 tingkatan dan 4 yoga.
Adapun alasan untuk menjalankan 4 yoga adalah untuk memurnikan ke 4 jenis kelahiran: yaitu kelahiran melalui kandungan rahim, melalui telur, melalui jentik-jentik dan yang dilahirkan secara spontan. Sedangkan 2 tingkatan adalah :
1. Tingkatan pembangkitan, biasanya adalah visualisasi
2. Tingkatan penyempurnaan, yakni peleburan.
Saat ini, kita mendengarkan sesuatu atau melihat sesuatu, kita memberikan penamaan dalam pikiran dan persepsi kita. Pada tingkatan pembangkitan, kita merubah semua keyakinan ini. Merubah semua ini adalah sangat penting sekali. Kita harus memandang setiap tempat adalah Tanah Suci Buddha, semua orang yang kita jumpai adalah Buddha, semua suara adalah Mantra dan semua bentuk pikiran yang muncul adalah kebijaksanaan dari para deity.
Pada tingkatan penyempurnaan, kita berusaha untuk merealisasikan Maha Sukha.
Ke 2 latihan ini terbagi atas :
1.Yoga dengan tanda-tanda, yaitu kita menvisualisasikan semua channel dari tubuh kita dan aliran aliran energi ("QI") serta bindu
2.Yoga tanpa tanda, yaitu kita cukup hanya berdiam pada kebenderangan dan kekosongan
Ini agak mendalam pembahasannya.
Ada 3 jenis Tingkatan Pembangkitan:
1.Tingkatan Pembangkitan Ilusi : Kita melihat semua fenomena bukan sebagai sesuatu yang nyata, sebagai sesuatu yang tidak ada nilai kenyataannya
2.Tingkat Pembangkitan Mendalam : Dengan visualisasi, kita juga melihat semua pemunculan adalah kosong
3.Tingkatan Pembangkitan Manifestasi : Menvisualisasikan semua tingkat. Inilah yang akan kita bahas di sini.
Sekarang kita konsentrasi pada Generation Stage ini (Tingkatan Pembangkit) ini. Penerapan tingkatan ini adalah sangat penting sekali. Dalam penerapannya, terdapat 2 jenis meditasi (sangat sulit) dan 3 metode. Ketiga Metode itu adalah:
1. Kejelasan dari Sang Deity
2. Pertahankan kebanggaan diri adalah sang deity
3. Ingat akan kemurnian / kesuacian
Ini lah yang harus kita terapkan.


Bagaimana menvisualisasi?



  1. Pertama bayangkan dulu istana dari sang Deity ( ini agak sulit, jadi kita tinggalkan dulu) dan bayangkan Sang Deity. Pertama tama, kosongkan pikiran kita (bebas dari semua bentuk bentuk pikiran) tubuh fisik kita harus nyaman, mental kita harus sangat tenang dan fokus. Kemudian bayangkan Sang Deity (Misalnya Tara) seperti pelangi di langit ataupun refleksi air danau muncul dari kekosongan.

  2. Visualisasi tahap demi tahap :


  • Pertama tama bayangkan sekuntum bunga Teratai dan diatasnya terdapat sebuah lapik bulan dan diatas lapik bulan terdapat bija kata TAM yang sangat halus, kemudian sinar menancar keluar ke dua arah, yaitu yang satu ke Sepuluh Penjuru Tanah Suci Buddha dan yang satu lagi ke 6 alam kehidupan, menyucikan semua mahluk dan kemudian sinar tersebut kembali ke bija kata TAM (dari kedua arah kembali ke Bija Kata TAM) dan sinar tersebut melebur ke Bija kata TAM dan Bija Kata TAM kemudian berubah menjadi Bunda Tara.

  • Kemudian bayangkan bija kata OM putih berdiri di atas Roda Dharma di dahi, bija kat AH merah di atas teratai berkelopak delapan di tenggorakan, dan bija kata HUM biru berdiri di atas lapik matahari di dada.

Usahakan bayangannya harus sejelas mungkin, sebagaimana yang telah dijelaskan. Menurut Jamyang Khentsen I, pertama-tama bayangkan dulu Guru kita di atas tahta singa di atas mahkota kepala kita, kemudian panjatkan doa permohonan seperti, "Berkahi saya, agar saya dapat menyempurnakan latihan Yidam". Jadi bukan memohon agar Guru kamu memberkahimu untuk mendapatkan lotery !!! Saat kita memanjatkan doa ini secara tulus, Guru menjadi sangat senang dan kemudian Guru yang ada di atas mahkota kepala kita melebur menjadi sinar merah dan kemudian melebur ke dalam diri kita, barulah kemudian kita mulai visualisasi.



Perlu diingat, jika kita diminta untuk visualisasi, semakin kita memaksanya, maka akan semakin hilang pembayangannya. Yang perlu kita lakukan adalah: ambillah selembar gambar deity / yidam, kemudian perhatikan dengan seksama dari atas hingga bawah secara berulang ulang dan kemudian tutup matamu, bayangkan dengan jelas mulai dari wajahnya kemudian leher, usahakan bayangkan sejelas mungkin, baru dilanjutkan dengan bagian tubuh dan seterusnya. Usahakan bayangkan sejelas mungkin keseluruhan yidam tersebut baru kemudian Yidam (Tara misalnya) yang kita bayangkan tadi itu kita resap ke dalam hati pikiran kita, kenakan melebur ke tubuh kita. (Maksudnya, Tara yang kita bayangkan tadi itu kita resapkan secara mendalam dalam hati pikiran kita, kemudian kita menyatu dengan Tara dalam tubuh kita, sehingga kita juga muncul sama persis seperti Tara).
Menurut teks ini, adalah penting bagi kita untuk menbayangkan juga istana beserta seluruh pengikut/pengiring dari Tara. Tapi mungkin bagi pemula itu akan sulit sekali, jadi bayangkan saja yidam utamanya saja. Karena bagaimanapun juga, bila ada seseorang mengundang Rinpoche, maka otomatis lamanya akan mengikutinya. Jadi lihat dan perhatikan gambarnya dengan seksama dan usahakan dapat membayangkannya dengan jelas. Bila anda mampu, barulah kembangkan untuk membayangkan juga istana dan seluruh pengiringnya, tapi jika tidak bisa, bayangkan saja yidam utamanya.


Visaualisasi haruslah dilakukan secara jelas dan tepat. Tidak boleh misalnya mata kiri dan kanannya tidak sama besar, atau matanya besar tapi bagian tubuh lainnya kecil. Semuanya haruslah dibayangkan secara proposianal dan sempurna.


Kadang sering kita temui, bila seseorang diminta untuk visualisasi dengan menggunakan gambar, maka deity yang muncul akan semuanya datar dan rata seperti gambar, sedangkan bila yang visualisasi dengan memperhatikan patung, maka hasilnya akan menjadi solid/padat. Tidaklah demikian. Semua itu hanya objek membantu kita untuk visualisasi, jadi tidak boleh dibayangkan semuanya rata. Harus dibayangkan sama persis seperti tubuh seorang manusia, ada lekukannya, tapi tidak ada isi dalam tubuhnya, seperti jantung, usus dan sebagainya. Tubuhnya hanya dipenuhi dengan sinar. Contohnya, saat kita membayangkan Tara atau semua Buddha, tubuhnya harus dipenuhi dengan cahaya dan penuh dengan welas asih, kebijaksanaan dan kekuatan. Ini adalah kualitas dari tubuh pencerahan. Bayangkan demikian. Bayangan yidam (Tara misalnya) haruslah kelihatan sangat hidup dan kemudian sinar lima warna memancar dan sinar utamanya adalah hijau memancar keluar.


Setelah kita dapat melakukan visualisasi/pembayangan demikian, barulah kita kembangkan ke visualisasi terhadap seluruh lingkungannya.
Yidam yang kita bayangkan itu semuanya memiliki postur yang berbeda. Tara contohnya adalah yang yang berpenampilan damai, akan berbeda dengan yang berpenampakan murka. Tara dan juga semua deity berpenampakan damai memiliki 9 postur pemunculan:



  1. Kulitnya sangat halus (tidak kasar) - karena mereka telah bebas/melepaskan
    kesombongan

  2. Gerakannya sangat anggun (lihat gambar tara terlihat sangat cantik dan anggun) - karena telah bebas dari kemarahan

  3. Seluruh bagian tubuhnya sangat seimbang dan proposional, sangat cantik, tidak ada yang kebesaran atau kekecilan - karena bebas dari kemelekatan/keinginan

  4. Otot-ototnya sangat kencang (tidak kendur, seperti mengantung) - karena telah bebas dari iri hati

  5. Tampak muda dan energik - karena telah bebas dari kemalasan

  6. Tubuhnya sangat bersih, murni dan suci - karena telah bebas dari ketidak tahuan

  7. Tubuhnya bersinat seperti berlian - karena telah bebas dari semua noda, maka kebijaksanaanNya berkembang

  8. Memiliki 32 tanda besar dan 80 tanda kecil seorang Buddha, sangat anggun dan menyenangkan. Sehingga semakin kita lihat, maka semakin kita kagum dan ingin melihat terus.

  9. Penuh dengan segala pengetahuan, sehingga Mereka dapat menaklukkan semua mahluk - karena telah bebas dari perbedaan.

Kemudian Deity berpenampakan Damai juga mengenakan 13 jenis hiasan damai, yang terdiri dari 5 jubah dari sutra dan 8 ornamen.
Ke-5 Jubah sutra (sebagai lambang untuk melenyapkan penderitaan semua mahluk hidup), terdiri dari:



  1. Jubah atas - dengan warna yang berbeda ( Tara misalnya putih)

  2. Jubah bagian bawah - yang terdiri dari lima warna (ada yang bilang coklat) tapi lihat saja thangka dari yidam dimaksud.

  3. Jubah yang diikat jadi tali pinggang

  4. Blus atau seperti pakain yang sering dikenakan wanita India yang tidak menutupi seluruh tubuh, yang mana perutnya masih kelihatan

  5. Lima helai kain sutra untuk mengikat Mahkotanya (yang mengikat Mahkotanya dari sebelah dalam) dan kain sutra warna biru yang menutupi bagian kepala hingga ke pinggang

Ke-8 jenis ornamen (sebagai lambang untuk memenuhi dan mengabulkan semua doa harapan semua mahluk hidup), terdiri dari :



  1. Mahkota

  2. Giwang

  3. Rantai

  4. Gelang tangan

  5. Gelang kaki

  6. Ikat pinggang emas

  7. Rantai yang lebih panjang dari rantai yang I dan mencapai dadanya

  8. Rantai yang lebih panjang lagi hingga mencapai pusarnya

Ini adalah point pertama yang perlu kita perhatikan.
Dua hal penting yang mesti kita terapkan lagi adalah: yang pertama kejelasan itu adalah sangat penting sekali dan kemudian adalah masalah kemelekatan.
Kita semua memiliki 2 jenis kemelekatan. Kemelekatan terhadap diri dan kemelekatan terhadap hal-hal diluar diri.


Bagaimana kita bisa melenyapkan kemelekatan ini? Karena kemelekatan adalah sumber dari penderitaan.Ketika kita melihat sebuah mobil, maka timbullah kemelekatan, yaitu keinginan untuk memilikinya. Bila kita tidak bisa memilikinya, maka kita akan sedih, hingga kita benar-benar memilikinya. Penderitaan kita yang timbul disini disebabkan karena kemelekatan kita. Jika kita tidak memiliki kemelekatan, maka tidak akan timbul masalah saat kita melihat mobil bagus.


Untuk melenyapkan kemelekatan terhadap objek luar adalah lebih mudah dari melepaskan diri dari kemelekatan terhadap diri. Bagaiman kita dapat melenyapkan kemelekatan diri? Untuk melenyapkan kemelekatan diri ini, dalam Sutrayana, menjalankan latihan merenungkan luka besar yang ada di kepala, yang kemudian melebar hingga semua kepala menjadi tengkorak. Banyak orang yang tidak tahan merenungkan ini dan membunuh diri. Kalau dalam Mahayana, melatih diri melalui perenungan terhadap fakta seperti ketidak kekalan dan kekosongan.


Di dalam Vajrayana, dengan menjalankan latihan menvisualisasikan diri sebagai deity. Bagaimana caranya? Kita membayangkan atau mengenali diri kita sendiri adalah Deity / Tara dari waktu tak berawal. Jadi bagaimana kita bisa melekat pada Tara. Tapi yang menjadi masalah kita adalah kita selalu berkeyakinan bahwa saya adalah saya yang di sini, sedangkan Tara adalah Tara yang ada di sana. Kemudian saya mengundang Tara ke sini dan merubah diri saya menjadi Tara. Atau sekarang saya lagi membayangkan diri saya adalah Tara dan berpura-pura menjadi Tara. Tidak demikian caranya.


Kita harus tahu dan yakin bahwa sejak waktu tak berawal, diri kita memanglah Tara. Dan miliki kebanggaan ini. Ini adalah sangat penting untuk dapat melenyapkan kemelekatan pada diri. Jadi bukan latihan untuk menjadi Tara, tetapi adalah mengenali bahwa diri kita memanglah Tara. Genggam kebanggaan ini. Menggenggam pada kebanggaan bahwa diri kita adalah Tara, adalah sangat penting, karena tidak perduli seberapa jelas kita dapat menvisualisasi, tapi kalau tidak memegang pada kebanggaan diri kita memang adalah Tara, latihan kita akan efektif.


Ini adalah suatu latihan yang sangat unik untuk melenyapkan kemelekatan diri. Contohnya saja, bila telinga kita kemasukan air, sebagian dari kita akan mengeringkannya dengan menggunakan kapas, tapi seperti di daerah Tibet dan Sikkim, mengluarkan air dari telinga adalah dengan cara memancingnya dengan memasukkan lagi air ke telinga. Inilah metode Tantra yang kita maksud di sini.


Untuk membebaskan diri dari kemelekatan terhadap hal-hal luar, maka kita perlu selalu mengingat kemurnian. Kita jangan melihat suatu benda sebagai suatu objek, tapi lihatlah sebagai manifestasi dari deity, Tara misalnya, semua suara adalah Mantra dan semua bentuk pikiran adalah kebijaksanaan deity. Karena bagaimanapun juga, semua pemunculan itu tidak terpisah dari Dharmakaya. Inilah cara kita untuk dapat melenyapkan kemelekatan pada objek luar. Sering sekali kita melihat sesuatu itu sebagai sesuatu yang nyata dan kekal. Deity juga tidak solid dan dapat muncul dalam berbagai wujud yang berbeda (tidak seperti yang kita lihat melulu). Mereka muncul dengan wujud tertentu untuk menyimbolkan sesuatu, contohnya:



  1. Satu wajah - melambangkan hanya ada satu kebenaran sejati (kebenaran tertinggi)

  2. Tiga wajah - melambangkan 3 tubuh Buddha / Kaya

  3. Dua lengan - melambangkan kesatuan dari metode dan kebijaksanaan

  4. Empat lengan - melambangkan praktek dari 4 pemikiran tanpa batas

  5. Enam Lengan - melambangkan 6 Kebajikan / Sad Paramita

  6. Empat kaki - melambangkan praktek untuk memperoleh pengikut

  7. Dua kaki - melambangkan kesatuan dari disiplin dan meditasi (Sila dan Samdhi)

  8. Sikap Vajra Sempurna - melambangkan bahwa Samsara dan Nirvana adalah sama

  9. Sikap Berdiri - melambangkan siap menolong yang membutuhkan

  10. 3 Mata - melambangkan mengetahui/melihat tiga waktu

  11. Empat Taring - melambangkan untuk menghancurkan 4 bentuk kelahiran.

  12. Bersatu dengan pasangan - melambangkan kesatuan dari Metode dan Kebijaksanaan

  13. Tidak berpakain lengkap - (bukan untuk mempertunjukkan tubuh) melambangkan bebas dari semua bentuk pikiran

  14. Kita selalu diminta untuk membayangkan deity berumur 16 tahun - melambangkan 16 tingkatan yang berbeda dari Maha Sukha.

Jadi setiap wujud dari seorang Buddha itu memiliki makna tertentu, jadi bukan berarti Buddha yang memiliki 4 muka (sangat jarang sekali) berarti untuk melihat ke 4 arah mata angin dan memiliki 4 kaki agar bisa lari lebih kencang. Tidak demikian. Semua wujud Buddha hanya untuk menyampaikan makna tertentu.


Diantara latihan yang kita diskusikan ini, menggenggam keyakinan/kebanggaan diri adalah deity adalah untuk melenyapkan kemelekatan pada diri dan selalu ingat pada kemurnian adalah untuk melenyapkan kemelekatan pada objek/hal luar. Jika kita dapat melihat semuanya adalah Tara, bagaimana mungkin masih ada kemelekatan dalam diri kita ?


Sekarang kita akan membahas topik kedua yang sangat penting sekali yaitu bagaimana teknik melafal mantra yang benar dan bagaimana menvisualisasikannya. Dalam praktek Vajrayana, kita selalu melafal mantra, apakah itu mantra Tara, Padmasambhava dan sebagainya. Adapun alasan kenapa kita membaca mantra adalah, sebagaimana kita ketahui, mantra adalah kata yang mengandung kekuatan.


Jadi jika kita melafalkan suatu mantra dengan penuh devosi, akan mampu memurnikan noda dari tubuh, ucapan dan pikiran kita, serta melindungi tubuh, ucapan dan pikiran kita dari halangan dalam, maupun halangan luar. Juga tujuan dari melafalkan mantra adalah untuk memurnikan/menyucikan kemelekatan kita akan ucapan, kata-kata umum berikut maknanya. Contohnya, pada saat kata "pohon" diucapkan, maka langsung terbayang dipikiran kita sebatang pohon, ok pohon ini, dan kita menyukainya. Kita telah memiliki kecenderungan demikian ini untuk waktu yang tak terhingga.


Untuk menghilangkannya dan memperoleh berkah dari para deity, kita mentransformasikan ucapan-ucapan umum ini menjadi suara/kata-kata dari mahluk yang sudah mencapai Pencerahan, seperti Tara, Avalokitsevara. Kita juga akan memperoleh efeknya bila kita membacakan mantra.

Sewaktu kita membaca mantra, juga sama seperti saat kita sedang memanggil seseorang, (seperti misalnya saat kita memanggil Michael), maka orang tersebut akan menoleh ke kita. Demikian juga yang terjadi pada saat kita melafalkan mantra.

Berikut ada 2 hal yang perlu kita mengerti, yaitu deity yang kita undang hadir di langit-langit di hadapan kita, yang disebut "dunche" dan diri kita yang kita visualisasikan sebagai deity, yang kita sebut "dakche". Pada saat kita berbicara tentang deity, biasanya ada tiga point, yaitu



  1. Samaya Sato

  2. Parana Sato

  3. Samdhi Sato

Tapi pada umumnya kita hanya berbicara tentang dua, yaitu Samaya Sato dan Parana Sato.

Samaya Sato adalah diri kita sendiri. Maksudnya disini adalah kita tidak memandang tubuh, ucapan dan pikiran kita sebagaimana dari seorang manusia biasa, tapi kita memandang Tubuh. ucapan dan Badan jasmani kita sebagai Tubuh, Ucapan dan Pikiran dari Mahluk yang telah Mencapai Pencerahan, yang mana yang sudah tidak memiliki pandangan yang salah. Itulah sebabnya disebut Sato.
Samaya = Tidak melampaui
Sato = Tidak memiliki pandangan yang salah

Parana Sato adalah deity yang kita undang. Misalnya kita mengundang Tara, maka Tara adalah Parana Sato.
Parana = Mengenali Tubuh, Ucapan dan Pikiran kita sebagai Tubuh Ucapan dan Pikiran Mereka selamanya
Sato = Bebas dari pikiran dualistik.

Apa perbedaannya?
Samaya Sato adalah tubuh biasa kita / tubuh yang kita vusualisasikan sebagai deity
Parana Sato adalah tubuh dari 5 warna angin (qi) dan pikiran
Jadi pada saat kita menvisualisasikan Tara, tubuhnya yang dalam adalah kosong.

Kemudian visualisasi bija kata OM AH HUM.

Bija kata OM ada di tengah (dari sebelah) dahi
Bija kata Ah di tengah tengorokan
Bija kata Hung di depan dada.

Bija kata deity, TAM misalnya Tara, di atas lapik bulan, kelihatan sangat halus, tajam jelas dan bersih. Perlu diperhatikan, hal ini semua sangat tergantung deity, ada yang bija kata nya di atas lapik matahari dan lapik bulan. Tapi kalau Tara, hanya di atas lapik bulan saja.

Misalnya Tara, Bija kata TAM berada dikelilingi oleh Mantra Tara yaitu Om Tare Tuttare Ture Soha (dalam tulisan Tibet) dengan susunan melingkar searah jarum jam. (kebanyakan deity wanita susunan mantranya akan melingkar searah jarum jam) jadi hanya dapat dibaca dari sebelah dalam. Dan pada saat mantra nya berputar, maka putarannya adalah berlawanan dengan arah jarum jam.

Sebaliknya, kebanyakan deity pria, susunan huruf mantra yang mengelilingi bija kata deity tersebut tersusun melingkar berlawanan dengan arah jarum jam dan mantranya menghadap keluar oleh sebab itu hanya dapat dibaca dari luar. Dan pada saat berputar, mantranya akan berputar searah jarum jam.

Jadi pada saat mantra mulai berputar, pertama-tama rangkaian Mantra tersebut melompat sedikit dari lapik bulannya, kemudian sinar lima warna memancar keluar dari bija kata utama. Kemudian Mantra dan suara mantra mulai berputar secara perlahan-lahan sekali, kemudian makin cepat dan makin cepat sampai berputar cepat sekali. Dan sinar memancar keluar dari mantranya.

Metode ini pada umumnya diterapkan pada latihan yidam / deity manapun. Ini adalah metode pada umumnya. Tetapi perlu diperhatikan, masing-masing tradisi, serta ada beberapa teks yang memiliki pembahasan tersendiri, jadi bisa jadi deity pria susunan mantranya searah jarum dan berputar berlawanan arah jam dan sebaliknya. Jadi tergantung teksnya. Ini hal yang sangat umum juga.

Jadi demikianlah cara kita menvisualisasi. Menurut teks ini, semakin anda dapat terfokus pada mantranya, adalah semakin baik. Bila tidak, maka latihan kita tidak akan efektif. Jadi tingkatkanlah visualisasi anda dan latihan yidam anda. Jika kita tidak dapat menvisualisasikan mantranya, cobalah tulis mantranya 100 x atau 1000 x.

Terdapat 3 cara latihan mantra:



  1. Gode = (tidak serius / mendalam). Yaitu pada saat menvisualisasikan mantra, pikiran secara total terfokus pada mantra dan berusaha untuk menahan udara (sedikit) 4 inch dibawah pusar sambil membaca mantra. Jadi kalau bisa, kita juga tahan sedikit nafas dibawah pusar saat kita bicara, berjalan dan kita akan dapat berjalan lebih cepat. Pada saat mantra berputar, sinar 5 warna keluar dari lubang hidung seperti benang dan menyentuh semua fenomena dunia luar, menyucikan semua pemunculan dari dunia luar, semuanya menjadi murni dan suci. Kemudian sinar kembali kepada kita dan melebur ke hati kita dan akhirnya mantra dan pikiran menjadi tak terpisahkan

  2. Yide = artinya baca dalam hati. Jadi pada saat baca mantra, kita tidak mengeluarkan suara. Jadi kita hanya konsentrasi pada mantranya (karena kita tidak mengeluarkan suara), hanya visualisasikan mantra dan suara dari mantra tersebut. Tulisan mantra itu ada suaranya, bukan hanya huruf / diagram semata-mata, sehingga pada saat mantra berputar, dia akan mengeluarkan suara. Jadi disini kita hanya berkonsentrasi pada mantra dan suara mantranya. Sebenarnya semua ini adalah bagian dari Samantha dan Vipassana

  3. Saat kita melafalkan mantra secara verbal, seperti yang biasa kita lakukan. Jadi menurut Sutra Ngamdo, pada saat kita melafalkan mantra, lafalkanlah secara tepat dan benar, suara tidak boleh terlalu kencang (kuat), tidak boleh terlalu lemah, tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat, tidak boleh melafal dengan tenaga (suara seperti membentak) dan juga tidak boleh lafal sambil tertawa (seperti suara orang cengengesan). Kemudian pada saat melafalkan mantra, pronunciasion/pengucapannya harus akurat (cara baca dan bunyinya harus tepat dan akurat). Mantra haruslah dilafalkan secara jelas, setiap bunyi mantranya harus jelas dan tepat.

Jadi pada saat kita membaca mantra, fokuskan pikiran kita pada mantra dan deitynya. Misalnya saat kita membaca mantra Zambala, kita harus visualisasikan Zambala, bukan US Dollar. Pada saat membaca mantra pikiran kita harus terfokus pada Mantra dan deity, bukan hanya asal membaca aja atau bahkan sambil bicara, tidak boleh juga sambil menggerak-gerakan badan (senam), sambil menguap. Seperti yang sering kita lakukan sehari-hari, tangan menghitung tasbih / mala, tapi mulut berbicara dengan orang. Jangan lakukan hal ini.Hindari semua hal ini. Waktu baca mantra, fokus, konsentrasi dan penuh kesadaran. Seperti menurut Sutra, pada saat kita membaca mantra namun pikiran kita melayang, maka tidak peduli kita baca mantra untuk 1.000 tahun atau satu kalpa, maka tidak akan membawa perkembangan / kemajuan.

Pada saat membaca mantra, usahakan tangan kita dekat di hati, tapi bila capek, boleh rileks sejenak, tidak apa-apa, ini tidak salah. Dan juga menurut teks ini, dikatakan bahwa pada saat mau mulai, kita visualisasikan deity/diri sendiri adalah deity. Setelah kita bayangkan diri adalah deity, berikutnya yang paling penting adalah miliki dan pertahankan kebanggaan diri sebagai deity (Tara misalnya) dan kemudian baru baca mantranya. Dan pada saat membaca mantra, fokuskan pada mantranya. .Kemudian pada saat melafalkan mantra, sinar memancar keluar dari mantra dan sesudah 108 kali, rileks sedikit, kemudian kembali bayangkan deity lagi, lalu mantranya dan seterusnya.

Ini adalah penting sekali. Hanya membacakan mantra semata-mata untuk mencapai jumlah tertentu tidak akan membawa manfaat. Jadi walau hanya membaca 1 mantra yang dilakukan dengan terfokus akan jauh lebih bermanfaat. Bukan hanya membaca saja tanpa terfokus, itu hanya akan buat mulut capek saja. Inilah sebabnya kenapa banyak yang tidak banyak memperoleh manfaat apa-apa dari latihannya, karena tidak mengikuti semua metode tersebut di atas.

Dan bila kita membacakan mantra Tara misalnya (atau lainnya), ada deity yang memiliki pengiringnya. Dan untuk itu, bila membacakan mantra deitynya 108X, maka pengiringnya 10% darinya (Ini tidaklah mutlak, bila ingin menjapa lebih dari 10 % pun tidak menjadi masalah).
Contohnya saja:
Amitabha Buddha = 108 X
Avalokitesvara = 10 X
Vajrapani = 10 X

Pada saat menjalankan latihan Mantra, ada yang memiliki 6 sesi, yang paling banyak adalah 4 sesi, bisa jadi 2 atau 3 sesi. Semua ini sangat tergantung dengan kondisi anda. Seperti kita di sini, daerah panas, akan sangat mudah capek.
Inilah cara/ teknik kita membaca mantra.

Berikut adalah tahap Peleburan (Penyatuan)
Jadi setelah kita selesai membacakan mantranya, maka Dunche/Parana Sato, yaitu Buddha atau Deity yang kita undang itu kemudian melebur/menyatu ke patung atau thangka bila ada, tapi bila tidak memiliki patung atau thangka, maka Dunche tersebut kita persilahkan untuk kembali
Kemudian diri anda yaitu Samaya Sato melebur ke Parana Sato, tapi tidak meninggalkan tempat (perlu penjelasn lebih lanjut), jika hanya dakche, jangan tinggalkan tempat.

Kemudian semua lingkungannya melebur ke istana, istana melebur ke mantra, mantra melebur ke bija kata TAM (Tara misalnya) bija kata TAM melebur ke bentuk bulan sabitnya dan melebur ke nanda (bulatan di atas Bija Kata TAM) dan nanda terakhir melebur ke universal. Semuanya menjadi kosong. Dalam teks tertentu, baca HUM 3X dan semuanya melebur ke universal dan baca PHET 3X (PHET adalah dialek Tibet, sedangakn dalan dialek Sansekertanya adalah PHAT), saat itu juga kita menjadi TARA.
Kemudian semuanya berubah menjadi Tara. Semua yang kita lihat adalah Tara, suara yang kita dengar adalah suara Tara dan pikiran adalah kebijaksanaan Tara.

Tapi sekali lagi, semuanya sangat tergantung pada teks masing-masing. Ada yang demikian, ada yang tidak. Jadi kita pada saat menjalankan latihan harus mengacu pada acuan teks yang kita pakai saat itu.

Latihan akhir / konklusi
Setelah kita berubah menjadi deity, maka pertahankan kebanggaan tersebut, lalu semua pemunculan adalah deity. Semua suara adalah mantra dari deity dan semua bentuk pikiran adalah bentuk kebijaksanaan dari pikiran deity.

Menurut Khunchen Chenpo, adapun alasan kenapa kita menjalankan ke dua (2) tingkat jenis latihan (Tahap membangun/ Generation State dan Tahap Penyempurnaan) adalah:
karena pada latihan Tahap Membangun/Generation State (pada saat kita membangun/menjadikan semua fenomena adalah deity), ini akan melenyapkan kemelekatan pada objek umum. Kita melihat semuanya adalah khayalan, seperti fatamorgana, semuanya adalah deity. Bahkan semua ini kemudian melebur/menyatu ke universal. Inilah Accomplishement State (Tahap Penyempurnaan)

Ini adalah latihan paling dalam untuk dapat menyadari Dharmakaya pada saat menjelang kematian (mandarin : Ling Zhong). Jadi tidak perlu lagi masuk bardo, langsung melebur ke universal, kita tidak perlu melalui proses bardo dan kelahiran kembali.

Jadi lakukanlah latihan Yidam anda terus menerus hingga anda mendapat penglihatan, seperti Tara muncul dihadapan anda, datang padamu dan memberkahi anda. Itulah saatnya anda mencapai latihan anda, dan minimal mendapat mimpi yang baik. Kalau bisa, minimal lakukanlah retret, 1 tahun, 9 bulan, 6 bulan atau 3 bulan atau minimal selesaikan persyaratannya, contohnya Tara: untuk latihan Tara, minimal kita harus menyelesaikan 1.000.000,- (satu juta) pelafalan mantraNya. Tiap suku kata dari Mantra mewakili 100.000 X. Tapi semakin banyak anda melafalkannya, maka akan semakin baik. Yang paling penting adalah fokus dan kenali diri anda adalah Tara, jika hanya baca saja, tidak akan membawa manfaat apa-apa. Jadi lakukanlah latihan mantra dengan tepat dan benar.

Lalu bagaimana kita tahu keberhasilan dari latihan Yidam kita?
Menurut Urgyen Rinpoche, kita tahu keberhasilan latihan Yidam kita, bila kita merasa sangat gembira, tubuh fisik kita sangat rileks dan menyenangkan, pikiran kita sangat tenang dan damai, pikiran sangat jernih, ketertarikan akan duniawi makin berkurang, pengalaman/realisasi (Kesadaran) makin meningkat dari hari ke hari. dan juga mendapat penglihatan (bukan khayalan). Semua sifat jelek seperti kemelekatan, iri hati, kemarahan akan makin berkurang. Juga bila minat kita untuk berlatih makin meningkat (tidak ada yang menyuruh anda, anda tetap menjalankan latihan). Dan yang paling penting lagi adalah kita cenderung untuk tidak menyukai samsara, ini adalah tanda-tanda dari kemajuan. Bukan sebaliknya, makin berlatih makin banyak ngomong! Bila justru rasa iri, kebencian, keinginan kita makin meningkat, artinya anda tidak berlatih!

Jadi dengan demikian diharapkan minimal anda semua sudah tahu bagaimana cara berlatih. Kita harus menjalankan latihan. Tidak ada jalan lain.

Sewaktu anda akan tidur, lakukan hal ini, bila bisa sepanjang malam: Kepala menghadap ke Utara, Wajah menghadap ke Barat (arah Sukhawati) punggung menghadap Timur lalu kemudian baringlah di atas bahu kanan, kemudian tutuplah lubang hidung kanan dengan jari manis tangan kanan (nafas dari energi karma dan qi/udara jelek), biarkan nafas hanya melalui lubang hidung kiri (energi/udara/qi kebijaksanaan). Letakkan tangan kiri di atas badan kiri dan kedua kaki dijulurkan lurus (seperti Buddha Tidur).

Kemudian panjatkan aspirasi, "Saya mau terbangun pagi hari, Buddha berkahi saya agar saya dapat menyempurnakan latihan Yidam saya dan mencapai Dharmakaya dalam kehidupan ini."

Jika kita tidur dengan posisi terlentang, maka kemelekatan dan keinginan kita akan meningkat. Jika posisi tertelungkup, maka kebodohan (kegelapan bathin) kita akan meningkat. Bila tidur dengan posisi di atas bahu kiri, maka kemarahan akan meningkat. Jadi semua ini harus dihindari.

Kemudian pada saat terbangun, anda bukanlah dibangunkan oleh seseorang atau oleh bunyi alarm, tapi dibangunkan oleh semua Daka / Dakini yang turun dari Negeri suci, dengan Dharmaru, bel dan sebagainya. Kemudian anda terbangun dan keluar dari sinar benderang dan lalu ikuti semua latihan keseharian anda. Jadi inilah pembahasan mengenai cara berlatih / Teknik
Visualisasi.

Segala Pahala Kebajikan dari pembabaran Dharma di blog ini, seluruhnya dipersembahkan kepada Mula Guru Dharmaraja Lian Sheng, semoga Dharmaraja Lian Sheng selamanya menetap di dunia, dan memutar Roda Dharma dalam bentuk kendaraan besar dan kecil untuk berbagai tingkat kemampuan dalam motivasi semua makhluk yang ada saat ini. Semoga saya dapat segera mencapai Pencerahan Sempurna demi semua makhluk. Semoga semua makhluk yang hidup di Samsara dapat berjodoh dengan Buddha Dharma, mempraktekkan Dharma, setelah memperoleh pengetahuan, dapat mengalahkan musuh - musuh yang berbahaya, dari ketiga racun, dan dapat mencapai Pencerahan

Om Mani Padme Hum

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara Sedharama, Lian Hua Shi An yang telah menerjemahkan sangat banyak Materi Dharma dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia, yang mana hasil terjemahannya sangat banyak yang saya post di blog ini

Manjusri Mantra

Music


Music