Tampilkan postingan dengan label Sutra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Vajrachedika Prajnaparamita Sutra (金剛般若波羅蜜經)

Vajrachedika Prajnaparamita Sutra
(金剛般若波羅蜜經 - Jin Gang Bo Re Bo Luo Mi Jing)


Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu Hyang Buddha sedang
berdiam di
Taman Jetavana di kota Sarasvati, dimana beliau berkumpul dengan 1.250
bhiksu agung.

Pada saat hampir tiba waktu makan, Yang Dijunjungi mengenakan jubah
dan
membawa mangkuk menuju ke kota Sarasvati untuk meminta makanan dari
rumah ke
rumah, kemudian kembalilah beliau ke tempat semula. Setelah selesai
makan
beliau merapikan kembali alat-alat makan dan jubahNya, membersihkan
kaki,
mengatur tempat duduk dan kemudian duduk di atasnya.

Pada saat itu, Yang Arya Subhuti bangkit dari tempat duduknya di
tengah-tengah persamuan itu, membiarkan bahu sebelah kanannya terbuka,
berlutut di atas kaki kanan sambil merangkapkan kedua tangan, dan
bersujud
dengan hormat sambil bertanya kepada Hyang Buddha :
"Yang Dijunjungi! Sungguh jarang terdapat, Tathagata yang selalu
mengingat
dan melindungi para Bodhisattva serta memberi petunjuk kepada mereka.
Yang
Dijunjungi, jika ada pria maupun wanita bajik yang bertekad untuk
mencapai
Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu dan
mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha menjawab: "Bagus sekali, bagus sekali, Subhuti, seperti
apa
yang Engkau katakan, Tathagata selalu mengingat dan melindungi para
Bodhisattva serta memberi petunjuk kepada mereka. Sekarang
dengarkanlah
dengan baik. Aku akan memberitahukan kepadamu bagaimana seharusnya
pria
maupun wanita bajik yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-
sambodhi
bertumpu dan mengendalikan hatinya."

"Ya! Tentu, Yang Dijunjungi! Kami akan mendengarkan dengan gembira
dan penuh
perhatian."

Hyang Buddha kemudian menjelaskan kepada Subhuti: "Semua Bodhisattva
Mahasattva harus demikian mengendalikan hatinya dengan ikrar: "Aku
harus
menyebabkan segala jenis makhluk hidup - apakah yang terlahir dari
penetasan
telur, dari rahim, dari cairan atau dari perubahan wujud seketika,
yang
memiliki wujud atau tanpa wujud, yang memiliki kesadaran atau tanpa
kesadaran, kesemuanya itu tanpa kecuali - untuk memasuki Nirvana
sempurna
dan berhenti bertumimbal lahir selamanya."
Akan tetapi, Subhuti, sekalipun ada tak terhitung dan tak terhingga
makhluk
hidup yang dibebaskan dari arus tumimbal lahir, sebenarnya tidak ada
makhluk
hidup yang dibebaskan. Mengapa? Subhuti, jika seorang Bodhisattva
mengidentifikasikan dirinya sebagai "aku", sebagai manusia, sebagai
makhluk
hidup dan sebagai kehidupan, maka dia sesungguhnya bukanlah seorang
Bodhisattva."


"Lagipula, Subhuti, berkenaan dengan pelaksanaan Dharma, seorang
Bodhisattva
tidak boleh terikat oleh apapun sewaktu dia memberi. Dia tidak boleh
terikat
oleh wujud sewaktu memberi, juga tidak boleh terikat oleh suara, bau,
rasa,
objek sentuhan, ataupun objek mental (dharma) sewaktu dia memberi.
Subhuti, seorang Bodhisattva harus memberi dengan demikian : Dia
tidak boleh
terikat pada ciri atau nama-rupa. Mengapa begitu? Jika seorang
Bodhisattva
tidak tercemar oleh ciri sewaktu dia memberi, pahala dan kebajikannya
adalah
tidak terukur."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah ruang angkasa di sebelah timur
dapat
diukur?"

"Tidak dapat, Yang Dijunjungi."

"Subhuti, apakah ruang angkasa di sebelah selatan, barat, utara, atau
ruang
di antara di atas dan dibawah dapat diukur?"

"Tidak dapat, Yang Dijunjungi."

"Subhuti, pahala dan kebajikan dari seorang Bodhisattva yang tidak
terikat
pada segala ciri sewaktu dia memberi juga demikian tidak terukur.
Subhuti,
seorang Bodhisattva haruslah bersikap demikian sebagaimana yang
diajarkan."

"Subhuti, bagaiman pendapatmu, dapatkah Tathagata dilihat dari ciri
fisik-Nya?"

"Tidak, Yang Dijunjungi, Tathagatha tidak dapat dilihat dari ciri
fisik-Nya.
Mengapa begitu? Sebab ciri fisik yang dikatakan oleh Tathagatha itu
sebenarnya bukan ciri fisik sejati."

Hyang Buddha membenarkan dan berkata kepada Subhuti: "Segala sesuatu
yang
mempunyai ciri adalah kosong dan palsu. Apabila engkau dapat
memandang semua
ciri sebagai bukan ciri, barulah kamu mengenal Hyang Tathagata
sejati."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha: "Yang Dijunjungi, apakah di masa
mendatang akan ada makhluk hidup yang setelah mendengarkan ajaran ini
timbul
kepercayaan yang murni?"

Hyang Buddha menjawab: "Subhuti, janganlah engkau berkata demikian:
500
tahun setelah Tathagata meninggal kelak akan terdapat mereka yang
dengan
tekun menjalankan sila dan mengumpulkan pahala, yang akan mempercayai
ajaran
ini dan menerimanya dengan tulus. Ketahuilah bahwa orang seperti ini
telah
menanam akar kebajikan di masa lampau bukan hanya pada satu Buddha,
dua
Buddha, tiga, empat, lima Buddha, melainkan telah menanam akar
kebajikan
pada jutaan Buddha yang tak terhitung. Mereka yang mendengar kalimat-
kalimat
dari Sutra ini dan membangkitkan sekejap pikiran dan keyakinan murni,
semua
ini akan diketahui dan dilihat oleh Tathagata. Mereka akan memperoleh
pahala dan kebajikan yang tak terukur. Apa sebabnya? Karena makhluk
hidup
seperti ini sudah tidak lagi terikat pada segala ciri keakuan,
manusia,
makhluk hidup dan kehidupan; juga tidak pada objek mental dan juga
bukan
objek mental. Jika hati makhluk hidup masih melekat pada ciri, maka
mereka
selalu terikat pada ciri yang membedakan keakuan, manusia, makhluk
hidup,
dan kehidupan. Untuk alasan itulah, engkau tidak boleh terikat pada
Dharma,
juga pada bukan Dharma. Mengenai prinsip itu, Tathagata sering
berkata:
"Kalian para bhiksu harus mengerti bahwa Dharma yang Kuuraikan adalah
bagaikan rakit. Bahkan Dharma sekalipun harus dilepaskan, apalagi
yang bukan
Dharma."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah Tathagata telah mencapai
Anuttara-samyak-sambodhi? Apakaha Tathagata telah mengajarkan
Dharma?"

Subhuti menjawab: "Seperti apa yang kami pahami dari ajaran Hyang
Buddha,
sebenarnya tidak ada ajaran tertentu yang dinamakan
Anuttara-samyak-sambodhi, dan juga tidak ada Dharma tertentu yang
diajarkan
oleh Tathagata.
Mengapa? Sebab Dharma yang diajarkan oleh Tathagata semuanya tidak
dapat
dipegang atau dibicarakan dengan kata-kata. Itulah Dharma yang tidak
berwujud, dan oleh karenanya para nabi dan orang suci semuanya sama-
sama
memperoleh Dharma tanpa gaya - asamkrta, walaupun berbeda atas
kesadaran
masing-masing untuk mencapainya. "

Subhuti, bagaimana pendapatmu, kalau seseorang memenuhi jutaan dunia
dengan
7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana-amal, apakah
pahala dan
kebajikan yang diperolehnya banyak?"

Subhuti menjawab: "Banyak sekali, Yang Dijunjungi! Mengapa begitu?
Sebab
pahala dan kebajikan itu bukanlah pahala dan kebajikan sejati
sifatnya, oleh
karenanya Tathagata mengatakan pahala dan kebajikannya sangat
banyak."

"Di lain pihak, jika ada seorang lainnya menerima Sutra ini dan
menjalankannya dengan tekun sekalipun hanya pada 4 bait gathanya saja
atau
mengajarkannya kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan
melebihi
orang yang terdahulu. Apakah sebabnya? Subhuti, semua Buddha dan
jalan yang
ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra
ini.
Subhuti, apa yang disebut sebagai Buddha Dharma itu pada hakekatnya
bukanlah
Buddha Dharma."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai
tingkat
Srotapanna boleh mempunyai pikiran "Aku telah memperoleh hasil
Srotapana."

"Subhuti menjawab : "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Mengapa? Srotapanna
berarti memasuki arus suci, tetapi sebenarnya dia tidak memasuki
apapun. Dia
tidak memasuki kesejatian suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek
mental :
Oleh karenanya dia dinamakan Srotapanna."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai
Sakradagamin boleh mempunyai pikiran "Aku telah memperoleh hasil
Sakradagamin?"

"Subhuti menjawab: "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Mengapa? Karena
Sakradagamin berarti seorang yang kembali hanya 1 kali lagi, tetapi
sebenarnya bagi dia sendiri sudah tidak ada kelangsungan pergi
datang, maka
dia dinamakan Sakradagamin."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai
tingkat
Anagamin boleh mempunyai pikiran :"Aku telah memperoleh hasil
Anagamin?"

Subhuti menjawab: "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Karena Anagamin
berarti dia
yang tidak kembali lagi, tetapi sebenarnya dia sendiri tidak
mengandung
pikiran datang atau kembali lagi, maka dia dinamakan Anagamin."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai
tingkat
Arhat boleh mempunyai pikiran "Aku telah memperoleh Ke-arhat-an?"

Subhuti menjawab : "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Karena sebenarnya
tidak
ada Dharma yang dinamakan Arhat. Yang Dijunjungi, apabila seorang
Arhat
mempunyai pikiran bahwa "Aku telah mencapai Ke-arhat-an" itu berarti
masih
ada kemelekatan pada diri, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Yang
Dijunjungi, dengan berhasilnya aku menjalankan Samadhi "Tanpa
Pertentangan",
Hyang Buddha mengatakan bahwa aku adalah yang terunggul di antara
manusia,
bahwa aku adalah Arhat yang terunggul dalam membebaskan diri dari
segala
nafsu keinginan. Yang Dijunjungi, aku tak pernah berpikir "Aku adalah
seorang Arhat yang terbebas dari nafsu keinginan". Jika aku mempunyai
pikiran "Aku telah mencapai Ke-arhat-an", Yang Dijunjungi tidak akan
berkata
bahwa Subhuti adalah orang yang paling berhasil menjalankan
ketenangan.
Karena Subhuti justru tidak merasa menjalankan kehidupan pertapaan,
Ia telah
diberi nama Subhuti, yang gemar menjalankan ketenangan."

Hyang Buddha berkata kepada Subhuti : "Bagaimana pendapatmu, apakah
ada
Dharma apapun yang diperoleh Tathagata sewaktu berada bersama Buddha
Dipankara?"

"Tidak, Yang Dijunjungi! Sebenarnya tidak ada Dharma apapun yang
diperoleh
Tathagata sewaktu berada bersama Buddha Dipankara."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah para Bodhisattva memperindah
tanah
suci?"

"Tidak, Yang Dijunjungi, apakah sebabnya? Karena alam Buddha itu
hakekatnya
tidak perlu diperindah lagi, hanya dalam penjelasan digunakan kata
memperindah."


"Oleh karena itu, Subhuti, para Bodhisattva, Mahasattva harus
menumbuhkan
pikiran suci dan jangan menumpukan hati pada segala wujud. Dia tidak
boleh
menumpukan hatinya pada suara, bau, rasa, objek sentuhan, dan objek
mental.
Dia tidak boleh menumpukan hatinya pada apapun dan dimanapun."

Subhuti, andaikata ada orang yang tubuhnya sebesar gunung Semeru,
bagaimana
pendapatmu, apakah tubuh itu besar?"

"Subhuti menjawab: "Sangat besar, Yang Dijunjungi, apakah sebabnya?
Karena
apa yang diuraikan oleh Hyang Buddha itu adalah tubuh yang tidak
sejati,
oleh sebab itu dikatakan tubuh itu sangat besar."



"Subhuti, jika terdapat sungai Gangga yang banyaknya bagai butir-
butir pasir
di sungai Gangga, bagaimana pendapatmu, apakah butir-butir pasir dari
semua
sungai Gangga tersebut dpaat dikatakan banyak?"

Subhuti menjawab: "Sangat banyak, Yang Dijunjungi jumlah dari sungai-
sungai
Gangga itu saja sudah tak terhitung banyaknya, apalagi isi butir-butir
pasirnya."

"Subhuti, akan Kututurkan dengan sebenarnya, jika ada seorang pria
atau
wanita bajik, dengan menggunakan 7 macam permata mulia untuk memenuhi
dunia
yang banyaknya bagai butir-butir pasir di semua sungai Gangga
tersebut, dan
memberikannya sebagai dana amal, apakah dia akan memperoleh banyak
pahala?"

Subhuti menjawab :"Sangat banyak, Yang Dijunjungi."

Kemudian Hyang Buddha memberitahukan Subhuti: "Jika ada seorang pria
atau
wanita bajik menerima dan mempertahankan Sutra ini sekalipun hanya
pada 4
bait gatha-nya serta mengajarkan kepada orang lain, pahala dan
kebajikannya
akan jauh melampaui pahala dan kebajikan orang yang terdahulu."


Lagipula., Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa semua dewa, manusia,
maupun
asura di dunia ini harus memberikan persembahan ke tempat dimana biar
sekalipun hanya 4 bait gatha dari Sutra ini dibacakan, sebagaimana
halnya
pada tempat suci atau Vihara, apalagi kalau di tempat itu ada orang
yang
bisa menerima, mempertahankan, mempelajari, dan membacakan Sutra
tersebut.
Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa orang yang demikian itu meyakinkan
Dharma yang paling utama dan langka. Di tempat manapun Sutra ini
berada, di
sana terdapat Buddha atau siswa yang menghormatinya."

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha : "Yang Dijunjungi, nama
apakah
yang harus diberikan kepada Sutra ini, dan bagaimana kami harus
menerima dan
mempertahankannya?"

Hyang Buddha memberitahukan Subhuti : "Sutra ini disebut Vajracchedika
Prjana Paramita, engkau harus menerima dan mempertahankannya dengan
nama
ini. Apa sebabnya? Subhuti, paramita kebijaksanaan yang dibicarakan
Hyang
Buddha sebenarnya bukan paramita kebijaksanaan, tapi hanya untuk
percakapan
dinamakan paramita kebijaksanaan."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah ada Dharma yang diajarkan oleh
Tathagata?"

Subhuti menjawab :"Yang Dijunjungi, Tathagatha tidak mengajarkan
sesuatu apa
pun."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah jumlah butir-butir debu yang
memenuhi
jutaan dunia dapat dikatakan banyak?"

"Sangat banyak, Yang Dijunjungi."

"Subhuti, butir-butir debu yang dikatakan oleh Tathagata itu bukanlah
butir-butir debu, namun hanya untuk bahasa percakapan dinamakan butir-
butir
debu, begitu pula jutaan dunia yang dikatakan Tathagata itu bukanlah
dunia,
itupun hanya diberi nama dunia."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, dapatkah Tathagata dilihat dengan
mengenali
ke-32 ciri fisik-Nya?"

"Tidak dapat, Yang Dijunjungi, orang tidak dapat melihat Tathagata
dengan
mengenali ke-32 ciri fisik-Nya. Apakah sebabnya? Karena apa yang
dikatakan
ke-32 ciri-ciri oleh Tathagata itu hanyalah ciri lahiriah saja, maka
dinamakan 32 ciri."

"Subhuti, jika di satu pihak ada seorang laki-laki atau wanita bajik
yang
mengorbankan jiwanya berkali-kali untuk tujuan amal bakti sebanyak
butir-butir pasir di sungai Gangga, dan apabila di pihak lain ada
seorang
yang menerima dan mempertahankan hanya 4 bait gatha dari Sutra ini
sekalipun, dan menjelaskannya kepada orang lain, pahala yang
diperolehnya
akan lebih besar daripada orang pertama."

Pada saat itu, Subhuti, setelah mendengarkan uraian yang dalam dari
Sutra
ini, diliputi pengertian dan rasa haru sehingga mencucurkan air mata,
berkata kepada Hyang Buddha : "Sungguh menakjubkan, Yang Dijunjungi.
Sungguh
dalam dan luas arti kata yang dibabarkan oleh Hyang Buddha dalam
Sutra ini.
Sejak memperoleh mata-kebijaksanaan sampai sekarang belum pernah kami
dengar
Sutra yang demikian.

Yang Dijunjungi, jika seseorang dapat mendengar penjelasan Sutra ini
dengan
hati murni dan penuh keyakinan, maka dia akan menyadari konsepsi ciri
sejati. Perlu diketahui bahwa orang demikian telah memperoleh pahala
kebajikan unggul yang jarang terdapat."

"Yang Dijunjungi, ciri sejati bukanlah ciri lahiriah, oleh karenanya
dikatakan oleh Tathagata sebagai ciri sejati. Yang Dijunjungi, kini
sewaktu
mendengar ajaran suci demikian, kami dapat menerima dan
mempertahankannya
dengan keyakinan dan pengertian tanpa kesulitan. Di masa yang akan
datang,
pada 500 tahun terakhir, akan ada makhluk hidup yang sewaktu
mendengar Sutra
ini, timbul keyakinan dan pengertian serta akan menerima dan
mempertahankannya, orang ini adalah yang telah mencapai pahala unggul
dan
luar biasa. Apakah sebabnya? Orang ini sudah tidak mempunyai konsepsi
keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Mengapa begitu?
Karena ciri
keakuan pada hakekatnya bukanlah ciri sejati, begitu pula tentang
manusia,
makhluk hidup, dan kehidupan, itu semua bukan ciri sejati. Karena itu
mereka
yang melepaskan segala konsepsi ciri disebut Buddha.

Hyang Buddha berkata kepada Subhuti : "Demikianlah, seperti yang
engkau
katakan, jika ada seseorang yang setelah mendengarkan Sutra ini tidak
terkejut, tidak gentar, dan tidak takut melaksanakannya, hendaknya
diketahui
bahwa orang ini benar-benar luar biasa. Mengapa begitu? Subhuti, apa
yang
Tathagata katakan sebagai Paramita pertama yaitu berdana sebenarnya
bukan
paramita pertama, hanya dalam kata-kata dinamakan Paramita pertama."

"Subhuti, Paramita Kesabaran, dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan
Paramita kesabaran, oleh sebab itu dinamakan Paramita kesabaran.
Mengapa
begitu? Subhuti, itu bagaikan di masa lampau sewaktu Raja Kalinga
memotong
anggota tubuh-Ku, pada saat itu Aku tidak terikat pada ciri keakuan,
manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Mengapa begitu? Sewaktu anggota
tubuh-Ku dipotong satu persatu, jika Aku masih mempunyai ciri
tersebut,
tentunya akan timbul rasa marah dan benci."

"Subhuti, selanjutnya Aku teringat bahwa di masa lalu, selama 500
kehidupan
yang terakhir, Aku adalah pertapa yang melatih kesabaran. Di dalam
semua
kehidupan tersebut Aku tidak mempunyai ciri keakuan, manusia, makhluk
hidup,
dan kehidupan. Oleh sebab itulah, Subhuti, seorang Bodhisattva harus
melepaskan semua ciri, menumbuhkan pikiran Anuttara-samyaksambodhi.
Dia
harus menumbuhkan hati yang tidak bertumpu pada suara, bau, rasa,
objek
sentuhan dan dharma. Dia harus menumbuhkan hati yang tidak bertumpu
pada
apapun dan di manapun. Setiap tumpuan hati adalah bukan tumpuan
sejati. Oleh
karena itu Hyang Buddha mengatakan : "Hati Sang Bodhisattva tidak
boleh
bertumpu pada wujud sewaktu dia memberi". Subhuti, untuk memberi
manfaat
kepada makhluk hidup seorang Bodhisattva harus memberi dengan
demikian.
Semua ciri dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan ciri, dan semua
mahkluk
hidup dikatakan sebagai bukan makhluk hidup."

"Subhuti, Tathagata adalah satu-satunya yang membicarakan kebenaran,
yang
membicarakan kenyataan, yang membicarakan apa yang sebenarnya, yang
tidak
membicarakan yang palsu, yang tidak membicarakan apa yang tidak
sebenarnya.
Subhuti, kebenaran yang diperoleh Tathagata itu bukanlah nyata atau
tidak
nyata."

"Subhuti, seorang Bodhisattva yang hatinya bertumpu pada dharma
sewaktu dia
memberi itu bagaikan seorang yang memasuki kegelapan, dia tidak bisa
melihat
apa-apa. Seorang Bodhisattva yang hatinya tidak bertumpu pada dharma
seewaktu dia memberi itu bagaikan seorang yang matanya dapat melihat
di
bawah cahaya matahari sehingga dia bisa melihat segala wujud."

"Subhuti, di masa yang akan datang, jika seorang laki-laki atau
wanita bajik
dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini,
maka
Hyang Tathagata dengan kebijaksanaan Buddha akan segera mengetahui
dan
melihat orang tersebut. Dia akan memperoleh pahala dan kebajikan yang
tak-terukur dan tak-terbatas."

"Subhuti, seorang laki-laki atau wanita bajik, di waktu pagi boleh
mengorbankan tubuhnya untuk perbuatan amal bakti berkali-kali sebanyak
butir-butir pasir di sungai Gangga, dan kemudian di waktu siang
maupun malam
melakukan perbuatan yang sama sebanyak itu, mengorbankan tubuhnya
dengan
demikian selama jutaan kalpa yang tak terhitung. Tetapi jika seseorang
lainnya mendengar Sutra ini dan mempercayainya dengan sepenuh hati,
maka
pahalanya akan melampaui orang yang pertama.
Apalagi kalau ada yang bisa menerima, menyalin, mempertahankan,
mempelajari,
membacakan, dan menjelaskan isinya kepada orang lain. Subhuti, pahala
dan
kebajikan dari Sutra ini adalah tak terungkapkan, tak terbayangkan,
tak
terbatas dan di luar semua pujian. Sutra ini dibabarkan oleh
Tathagata bagi
mereka yang telah menempuh Jalan Mahayana, mereka yang telah menempuh
Jalan
Utama.
Jika seseorang bisa menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan
dan
menjelaskan kepada orang lain, mereka akan diketahui dan dilihat oleh
Tathagata. Orang yang demikian memperoleh pahala dan kebajikan yang
tak
terukur, tak terungkapkan, tak terbatas dan tak terbayangkan sehingga
dengan
demikian mempertahankan Anuttara-samyak-sambodhinya Tathagata."

"Mengapa begitu? Subhuti, seseorang yang menyukai Dharma yang lebih
kecil
terikat pada konsepsi keakuan, manusia, makhluk hidup, dan konsepsi
kehidupan. Dia tidak dapat mendengar, menerima, mempertahankan,
mempelajari,
atau membacakan Sutra ini atau menjelaskannya kepada orang lain.

"Subhuti, para dewa, manusia dan asura di dunia memberikan
persembahan ke
tempat dimana Sutra ini ditemukan. Perlu engkau ketahui, bahwa tempat
demikian adalah sebuah tempat suci bagaikan sebuah stupa dimana
setiap orang
harus bersujud dengan hormat, mengelilingi serta menyebarkan dupa dan
bunga."

"Lagipula, Subhuti, jika seorang laki-laki atau wanita bajik yang
menerima,
mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini diejek dan
dicemoohkan
orang lain, itu sebenarnya merupakan rintangan karma bawaan dari
kehidupan
sebelumnya yang akan menjerumuskannya ke kehidupan menyedihkan. Tetapi
karena dalam kehidupan sekarang dia dicemoohkan orang lain, rintangan
karmanya itu terhapuskan dan dia akan mencapai Anuttara-samyak-
sambodhi.

"Subhuti, Aku teringat pada asamkheya kalpa yang tak terhitung di
masa lalu
sebelum Buddha Dipankara, Aku bertemu dengan 84.000 nayuta juta
Buddha, dan
memberikan persembahan serta melayani mereka semua tanpa terkecuali.
Tetapi
jika ada seseorang di jaman berakhirnya Dharma yang dapat menerima,
mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, pahala dan
kebajikan
yang diperolehnya adalah 100 kali lebih, 1.000 kali lebih, sejuta
ataupun
suatu jumlah yang tak terbilang daripada pahala dan kebajikan yang
Kuperoleh
dari memberikan persembahan kepada semua Buddha tersebut."

"Subhuti, jika Aku harus menguraikan seluruh pahala dan kebajikan dari
seorang laki-laki atau wanita bajik yang di jaman berakhirnya Dharma
dapat
menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini,
mereka yang
mendengarkannya bisa menjadi gila dan tidak mempercayainya. Subhuti,
perlu
engkau ketahui bahwa arti dari Sutra ini adalah tak terbayangkan, dan
buah
dari pahalanya juga tak terbayangkan."

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, jika
seorang
laki-laki atau wanita bajik bertekad untuk mencapai
Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu, bagaimana
seharusnya dia mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha memberitahu Subhuti, "Seorang laki-laki atau wanita
bajik, yang
bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus berpikiran
demikian:
"Aku harus membebaskan semua makhluk hidup dari arus tumimbal lahir,
tetapi
bila semua makhluk hidup sudah dibebaskan dari tumimbal lahir,
sebenarnya
sama sekali tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa begitu?
Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri
manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah
seorang
Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma
tentang
tekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Sewaktu Tathagata sedang berada
bersama
Buddha Dipankara, apakah ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-
sambodhi
yang diperoleh?"

"Tidak, Yang Dijunjungi. Seperti apa yang kami pahami dari ajaran
Hyang
Buddha, sewaktu Hyang Buddha berada bersama Buddha Dipankara, tidak
ada
Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi yang diperoleh."


Hyang Buddha berkata, "Demikianlah, Subhuti, sebenarnya tidak ada
Dharma
tentang Anutara-samyak-sambodhi yang diperoleh Tathagatha. Subhuti,
jika ada
Dharma demikian yang diperoleh Tathagatha, maka Buddha Dipankara
tidak akan
memberikan pada-Ku ramalan, "Engkau akan mencapai ke-Buddha-an di
masa yang
akan datang dan bernama Sakyamuni." Karena sebenarnya tidak ada
Dharma untuk
mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, maka Buddha Dipankara memberikan
ramalan
itu pada-Ku."

"Mengapa begitu? Tathagata berarti hakiki dari semua Dharma. Jika
seseorang
mengatakan Tathagata memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi, Subhuti,
sebenarnya tidak ada Dharma demikian yang diperoleh Hyang Buddha.
Subhuti,
Anuttara-samyak-sambodhi yang dicapai Tathagata, di dalamnya,
bukanlah
nyata atau tidak nyata. Oleh karena itu, Tathagata mengatakan semua
Dharma
sebagai Buddhadharma. Subhuti, semua Dharma dikatakan sebagai bukan
Dharma
sejati. Oleh sebab itu disebut Dharma."

"Subhuti, itu bisa diandaikan sebagai tubuh seorang yang sangat
besar."

Subhuti berkata: "Yang Dijunjungi, tubuh besar seseorang itu
dikatakan oleh
Tathagata sebagai bukan tubuh besar, oleh sebab itu dinamakan tubuh
besar."

"Subhuti, seorang Bodhisattva juga demikian, jika dia berkata, "Aku
harus
membebaskan makhluk hidup yang tak terhitung dari tumimbal lahir,
maka dia
tidak akan disebut seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti,
sebenarnya
tidak ada Dharma yang dinamakan Bodhisattva. Karena itu Hyang Buddha
mengatakan semua Dharma tidak memiliki konsepsi diri, konsepsi
manusia,
konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan."

"Subhuti, jika seorang Bodhisattva mengatakan, "Aku akan menghiasi
Tanah
Buddha", dia tidak akan disebut Bodhisattva. Apa sebabnya?
Memperindah tanah
Buddha dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan memperindah. Oleh
sebab itu
dinamakan memperindah. Subhuti, jika seorang Bodhisattva memahami
bahwa
segala Dharma tidak memiliki konsepsi diri, Tathagata menyebutnya
sebagai
seorang Bodhisattva sejati."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata mempunyai mata
fisik?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagata mempunyai mata fisik."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata mempunyai mata
dewa?"
"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagata mempunyai mata dewa."

Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata mempunyai mata
kebijaksaan?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagata mempunyai mata
kebijaksanaan."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata mempunyai mata
Dharma?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagata mempunyai mata Dharma."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata mempunyai mata
Buddha?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagata mempunyai mata Buddha."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata telah membicarakan
butir-butir pasir di sungai Gangga?

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagata telah bicara perihal
butir-butir
pasir tersebut."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika semua butir pasir di sungai
Gangga
menjadi jumlah sungai Gangga yang sama, dan semua butir pasir di
dalam semua
sungai Gangga tersebut menjadi tanah Buddha yang sama. Apakah
jumlahnya
sangat banyak?"

"Sangat banyak, Yang Dijunjungi."

Hyang Buddha memberitahu Subhuti: "Semua bentuk pikiran yang beraneka
ragam
dari para makhluk hidup di semua tanah Buddha tersebut diketahui
seluruhnya
oleh Tathagata. Apa sebabnya? Semua pikiran dikatakan oleh Tathagatha
sebagai bukan pikiran, karena itu disebut pikiran. Apa sebabnya?
Subhuti,
pikiran yang telah lalu tidak dapat dipegang, pikiran sekarang tidak
dapat
dipegang, pikiran yang akan datang tidak dapat dipegang."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang memenuhi jutaan dunia
dengan
7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal, apakah
orang itu
akan memperoleh banyak pahala dari perbuatan tersebut?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Orang itu akan memperoleh sangat
banyak
pahala dari perbuatan tersebut."

"Subhuti, jika pahala dan kebajikan itu benar-benar nyata, Tathagata
tidak
akan mengatakan memperoleh banyak pahala. Disebabkan oleh pahala dan
kebajikan itu tidak nyata maka Tathagata mengatakan memperoleh banyak
pahala."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagata dilihat dari
kesempurnaan wujud fisik-Nya?"

"Tidak, Yang Dijunjungi. Tathagata tidak dapat dilihat dari
kesempurnaan
wujud fisik-Nya. Apa sebabnya? Kesempurnaan wujud fisik dikatakan oleh
Tathagata sebagai bukan kesempurnaan wujud fisik, oleh sebab itu
disebut
kesempurnaan wujud fisik."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagata dilihat dari
kesempurnaan ciri-Nya?"

"Tidak, Yang Dijunjungi. Tathagata tidak dapat dilihat dari
kesempurnaan
ciri-Nya. Apa sebabnya? Kesempurnaan ciri dikatakan oleh Tathagata
sebagai
bukan kesempurnaan ciri, oleh sebab itu disebut kesempurnaan ciri."

"Subhuti, janganlah mengatakan Tathagata punya pikiran "Aku telah
membabarkan Dharma." Janganlah berpikir begitu. Apa sebabnya? Jika
seseorang
mengatakan bahwa Tathagata telah membabarkan Dharma dia menghina
Hyang
Buddha disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk mengerti apa yang
kukatakan.
Subhuti, di dalam Dharma yang dibabarkan sebenarnya tidak ada Dharma
yang
bisa dibabarkan, oleh sebab itu disebut Dharma yang dibabarkan

Kemudian Arya Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi,
apakah
ada makhluk hidup di masa yang akan datang yang akan mempercayai
Sutra ini
sewaktu mereka mendengarnya?"

Hyang Buddha berkata, "Subhuti, sebenarnya tidak ada makhluk hidup
maupun
bukan makhluk hidup. Apa sebabnya? Subhuti, makhluk hidup dikatakan
oleh
Tathagata sebagai bukan makhluk hidup, oleh sebab itu disebut makhluk
hidup."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha : "Yang Dijunjungi, apakah dengan
memperoleh Anuttara-Samyak-Sambodhi, Hyang Tathagata tidak memperoleh
apapun?"

Hyang Buddha menjawab: "Demikianlah, Subhuti. Mengenai
Anuttara-Samyak-Sambodhi, sebenarnya tidak ada sedikitpun Dharma yang
bisa
diperoleh. Oleh sebab itu disebut Anuttara-Samyak-Sambodhi."

"Lagipula Subhuti, Dharma ini sama rata dan setara, tanpa tinggi
maupun
rendah. Oleh sebab itu dinamakan Anuttara-samyak-sambodhi.
Mempraktekkan
semua Dharma yang baik dengan tanpa konsepsi diri, konsepsi manusia,
konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan adalah memperoleh
Anuttara-samyak-sambodhi. Subhuti, Dharma yang baik dikatakan oleh
Tathagata sebagai bukan Dharma yang baik. Oleh sebab itu dinamakan
Dharma
yang baik."

"Subhuti, jika ada timbunan 7 macam permata mulia yang jumlahnya sama
dengan
semua gunung Semeru di dalam jutaan dunia, dan seseorang memberikannya
sebagai dana amal, dan seorang lainnya mengambil dari Prajna Paramita
Sutra
ini hanya 4 baris gatha saja, serta menerima, mempertahankan,
mempelajari,
membacakan, dan menerangkan kepada orang lain, pahala dan
kebajikannya akan
melampaui orang pertama tadi berjuta-juta kali atau tak terhitung
banyaknya."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika ada orang yang mengatakan bahwa
Tathagata mempunyai pikiran : "Aku akan membebaskan semua makhluk
hidup".
Subhuti, jangan mempunyai pikiran demikian. Mengapa? Karena
sebenarnya tidak
ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagata. Jika ada makhluk
hidup
yang dibebaskan oleh Tathagata, maka Tathagata akan mempunyai
konsepsi
keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Subhuti, keberadaan
konsepsi
keakuan dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan keberadaan konsepsi
diri
tetapi orang awam menganggapnya sebagai keberadaan konsepsi keakuan.
Subhuti, orang awam dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan orang
awam. Oleh
sebab itu dinamakan orang awam."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah seorang merenungkan
Tathagata dari
ke 32 ciri fisik-Nya?"

Subhuti berkata, "Demikianlah, Yang Dijunjungi, seseorang dapat
merenungkan
Tathagata dari ke-32 ciri fisikNya."

Hyang Buddha berkata, "Subhuti, jika Tathagata dapat direnungkan
dari ke-32
ciri fisik-Nya, maka seorang maharaja pemutar Dharma juga dapat
menjadi
seorang Tathagata."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, seperti apa
yang kami
pahami dari ucapan Hyang Buddha, seseorang tidak seharusnya
merenungkan
Tathagata dari ke-32 ciri fisik-Nya."

Pada saat itu Yang Dijunjungi mengucapkan suatu gatha yang berbunyi :
Barang siapa melihat-Ku dalam wujud,
Barang siapa mencari-Ku dalam suara,
Dia mempraktekkan jalan menyimpang,
Dan tidak dapat melihat Hyang Tathagata.

"Subhuti, engkau mungkin mempunyai pikiran bahwa Tahagata tidak
memperoleh
Anuttara-samyak-sambodhi dengan cara penyempurnaan ciri. Subhuti,
jangan
berpikiran bahwa Tathagata tidak memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi
dengan
cara penyempurnaan ciri. Subhuti, engkau tidak boleh berpikiran bahwa
mereka
yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berarti
penghancuran
semua Dharma. Jangan berpikir demikian! Mereka yang telah bertekad
mencapai
Anuttara-samyak-sambodhi bukan berarti penghancuran semua ciri pada
akhirnya."

"Subhuti, seorang Bodhisattva boleh memenuhi sistem dunia yang
banyaknya
bagai butir-butir pasir di sungai Gangga dengan 7 macam permata mulia
dan
memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang lainnya
mengetahui
bahwa semua Dharma tidak memiliki diri dan mencapai
Anuttpatika-Dharma-ksanti, pahala dan kebajikan dari Bodhisattva
tersebut
akan melampaui Bodhisattva yang pertama. Mengapa begitu? Subhuti, itu
disebabkan karena Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Djunjungi, bagaimana bisa
Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan?"

"Subhuti, karena Bodhisattva tidak boleh mengharapkan pahala dan
kebajikan
dari perbuatan baik yang dilakukannya, mereka dikatakan tidak menerima
pahala dan kebajikan."

"Subhuti, jika ada orang mengatakan Tathagata itu datang atau pergi,
duduk
atau berbaring, orang tersebut tidak mengerti maksud ajaran-Ku.
Mengapa
begitu? Karena Tathagata tidak datang dari manapun juga tidak pergi
ke
manapun. Oleh sebab itu disebut Tathagata."

"Subhuti, jika ada seorang laki-laki atau perempuan bajik meratakan
jutaan
dunia menjadi titik debu, bagaimana pendapatmu, apakah masa dari
titik debu
itu sangat besar?

Subhuti berkata, "Sangat besar, Yang Dijunjungi. Mengapa begitu? Jika
masa
dari titik debu itu benar-benar ada, Hyang Buddha tidak akan
mengatakannya
sebagai masa titik debu. Mengapa begitu? Masa titik debu dikatakan
oleh
Hyang Buddha sebagai bukan masa titik debu. Yang Dijunjungi, jutaan
dunia
dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan dunia, oleh sebab itu disebut
dunia.
Mengapa begitu? Jika dunia itu benar-benar ada, maka akan ada
perpaduan
ciri. Perpaduan ciri dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan
perpaduan ciri.
Oleh sebab itu disebut perpaduan ciri.

"Subhuti, perpaduan ciri tidak dapat dibicarakan, tetapi orang awam
sangat
terikat pada hal tersebut."

"Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Hyang Buddha membicarakan
konsepsi
diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup dan konsepsi kehidupan,
bagaimana pendapatmu? Apakah orang itu mengerti makna ajaran-Ku?"

"Tidak, Yang Dijunjungi, orang itu tidak mengerti makna ajaran
Tathagata.
Mengapa begitu? Konsepsi diri, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan
dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan konsepsi diri, bukan konsepsi
manusia, bukan konsepsi makhluk hidup, dan bukan konsepsi kehidupan.
Oleh
sebab itu disebut demikian."

"Subhuti, mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-
sambodhi harus
mengetahui, memandang, percaya dan mengerti semua Dharma dengan
demikian.
Subhuti, ciri Dharma dikatakan oleh Tathagata sebagai bukan ciri
Dharma,
oleh sebab itu disebut ciri Dharma."

"Subhuti, seseorang boleh memenuhi jutaan dunia tak terhitung dengan
7 macam
permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang
laki-laki atau perempuan bajik yang telah bertekad mencapai
Anuttara-samyak-sambodhi mengambil dari Sutra ini, sekalipun hanya 4
baris
gatha saja dan menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan
menerangkannya dengan luas kepada orang lain, pahalanya akan
melampaui orang
pertama tadi."
"Bagaimana caranya menerangkan kepada orang lain? Dengan tidak
terikat pada
ciri : tanpa tumpuan. Mengapa begitu?
Semua Dharma yang terkondisi
Adalah bagaikan mimpi, ilusi, gelembung, bayangan,
Bagaikan titik embun dan kilatan petir,
Renungkanlah dengan demikian.

Sesudah Hyang Buddha membabarkan Sutra ini, Arya Subhuti, semua
bhiksu dan
bhiksuni, upasaka dan upasika, serta para dewa, manusia, asura,
mendengarkan
apa yang dikatakan Hyang Buddha, bergembira, percaya, menerima,
menghormati
dan mempraktekkannya."

Minggu, 21 November 2010

Sutra Kelenyapan Dharma


Sutra Kelenyapan Dharma

Demikianlah yang telah kudengar. Pada saat itu Buddha ada di negeri Kusinagara. Tathagata akan parinirvana dalam tiga bulan dan para bhiksu dan Boddhisattva berikut banyak sekali makhluk hidup lain sudah datang untuk menyembah dan bersujud kepada Buddha. Sang Bhagavan dalam keadaan tenang dan diam. Buddha tidak bicara satu kata pun dan cahayaNya tidak muncul.
Ananda bersujud dan bertanya kepada Buddha, "Oh Bhagavan, sebelum ini setiap kali Tathagata memberikan Dharma, cahaya mempesona muncul. Namun hari ini dalam persamuan besar ini tidak ada pancaran cahaya. Pasti ada sebab musabab untuk ini dan kami ingin mendengar penjelasan Bhagavan." Buddha tetap diam dan tidak menjawab sampai permintaan diulang tiga kali. Buddha kemudian memberitahu Ananda. "Setelah saya parinirvana, ketika Dharma sudah menjelang lenyap, pada waktu Lima Kemerosotan (kemerosotan kalpa, kemerosotan pandangan, kemerosotan kekotoran batin, kemerosotan makhluk hidup dan kemerosotan usia) sedang melanda dunia, gaya hidup sesat akan tumbuh dengan subur. Mara-mara akan berpura-pura menjadi Sramana; mereka akan menyesatkan dan merusak ajaran saya, mengenakan pakaian orang awam, mereka lebih suka berjubah indah yang terbuat dari kain yang berwarna-warni. Mereka akan minum minuman keras, makan daging, membunuh makhluk lain, dan mereka akan menurutkan nafsu mereka memakan makanan yang dibumbui dengan beraneka ragam rasa. Tidak berbelas kasih dan bahkan saling membenci di antara mereka. "Pada waktu itu akan ada Boddhisattva, Pratyekabuddha, dan Arhat yang akan dengan hormat dan tekun menanam kebajikan yang tak ternoda. Mereka akan dihormati orang dan ajaran mereka akan adil dan sederajat. Mereka akan menaruh belas kasihan terhadap orang miskin, teringat kepada orang yang sudah lanjut usia, dan mereka akan menyelamatkan dan memberi wejangan kepada orang yang dalam kesusahan. Mereka akan selalu memotivasi orang lain untuk menghormati dan melindungi Sutra dan pratima Buddha. Mereka akan melakukan hal yang bermanfaat, tegas dan baik hati dan tidak pernah mencelakakan orang lain. Mereka akan mengorbankan jasmaninya untuk kemaslahatan makhluk hidup. Mereka tidak akan memperdulikan keadaannya sendiri tetapi akan sabar, mengalah, manusiawi dan damai. "Jika orang seperti ini ada, gerombolan bhiksu jahat akan iri hati. Yang jahat akan mengejek, memfitnah dan mencemarkan nama baik mereka, mengusir dan merendahkan derajat mereka. Yang jahat akan mengasingkan bhiksu yang baik dari masyarakat biara. Kemudian yang jahat ini tidak akan menanam jalan kebajikan. Vihara dan caitya mereka akan kosong dan tak terawat. Karena tidak dipelihara, tempat itu lama kelamaan akan menjadi puing reruntuhan dan dilupakan orang. Bhiksu yang jahat hanya haus akan kekayaan dan menimbun harta benda. Mereka akan menolak membagikan kekayaannya satu bagian pun atau menggunakannya untuk memperoleh berkah dan kebajikan." "Pada waktu ini, bhiksu jahat akan membeli dan menjual budak untuk bercocok tanam dan membuka hutan gunung dengan cara tebas-bakar. Mereka akan mencelakakan makhluk hisup dan tidak ada rasa belas kasihan sedikit pun. Budak-budak ini akan menjadi bhiksu dan pelayan wanita menjadi bhiksuni. Sama sekali tidak berkelakukan baik, mereka akan bertindak sesuka hati dan berkelakuan amoral. Dalam kondisi pikiran yang kacau, mereka tidak akan memisahkan laki-laki dan wanita di masyarakat vihara. Merekalah biang kemerosotan Dharma. Buronan akan mencari perlindungan di Jalan-Ku, ingin menjadi Sramana tetapi t idak mau mematuhi vinaya (sila). Walaupun Pratimoksa Sila dibacakan dua kali sebulan, tetapi hanya dalam nama saja. Karena mereka malas dan lemah, tidak ada orang yang mau mendengar ajaran lagi. Sramana yang jahat ini tidak akan sudi membacakan seluruh ajaran Sutra melainkan akan meringkas di bagian depan dan di bagian belakang teks sesuka hati. Tidak lama kemudian praktek pembacaan Sutra akan berhenti sama sekali. Sekalipun ada yang membacakan teks, mereka tidak akan berpendidikan, tidak memenuhi syarat, namun bersikeras bahwa merekalah yang betul. Tidak mau bertanya kepada yang paham, bersikap sombong dan angkuh, orang ini cenderung mencari kemasyhuran dan keagungan. Mereka suka berpura-pura dan bergaya alim dengan harapan bisa menarik sumbangan dari orang lain. "Ketika bhiksu jahat ini wafat mereka akan jatuh ke neraka Avici. Berbuat lima dosa besar, mereka akan terlahir sebagai hantu kelaparan dan hewan selama berkalpa-kalpa sebanyak jumlah pasir di sungai Gangga. Setelah karma mereka sudah selesai dilaksanakan, mereka akan dilahirkan di tempat terpencil yang tidak ada Triratna." "Waktu Dharma akan berakhir, wanita akan menjadi giat dan selalu berbuat kebajikan. Sebaliknya laki-laki akan menjadi malas dan tidak lagi mempraktekkan Dharma. Mereka akan melihat Sramana seperti kotoran hewan dan tidak beriman. Ketika Dharma sudah akan berakhir, semua dewa akan mulai menangis. Sungai-sungai akan menjadi kering dan lima jenis padi tidak akan matang. Penyakit epidemik akan bersimaharajarela, jumlah korban banyak sekali. Banyak orang akan bekerja membanting tulang dan menderita sedangkan pejabat daerah akan bersekongkol dan membuat rencana jahat. Tidak ada yang mematuhi peraturan; semuanya hanya bersenang-senang saja. Orang jahat makin banyak, sebanyak pasir di dasar laut. Orang baik susah dicari; paling banyak hanya ada satu atau dua orang saja. Ketika akhir zaman sudah mendekat, revolusi matahari dan bulan menjadi lebih pendek dan umur manusia menjadi lebih pendek. Rambut akan memutih waktu umur empat puluh. Disebabkan kelakukan tidak bermoral yang sudah berlebihan, laki-laki menghabiskan spermanya sehingga wafat
di waktu umur muda, biasanya sebelum enam puluh tahun.
Walau umur laki-laki turun, umur wanita akan naik menjadi tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun." "Sungai-sungai besar akan bergolak melawan siklus alam sehingga tidak harmonis, namun manusia tidak perduli memperhatikannya dan tidak merasa khawatir. Iklim yang berfluktuasi secara ekstrim akan segera dianggap biasa. Manusia dari semua ras akan bercampur aduk secara sembarangan, tanpa perduli terhadap yang baik dan jahat. Mereka akan timbul tenggelam seperti makhluk yang diberi makanan di air." "Saat itu, ada Boddhisattva, Pratyekabuddha, dan Arhat, karena diusir para Mara, tak dapat menghadiri pertemuan umat. Ketiga yana (kereta) terpaksa masuk gunung, tempat kebajikan bersemayam. Mereka bahagia dalam hidup yang sederhana, usia mereka pun menjadi panjang. Dewa akan melindungi dan bulan akan menyinari mereka. Tiga kereta akan mempunyai kesempatan untuk berkumpul dan Jalan Kebenaran akan berkembang walaupun sebentar. Namun dalam kurun waktu lima puluh dua tahun, Sutra Suranggama dan Sutra Pratyutpanna-buddha-sammukhavasthita-samadi akan lenyap terlebih dahulu. Dua belas divisi dari ajaran Buddha akan berangsur-angsur ikut hilang, takkan pernah muncul lagi. Kata-kata dan kitabnya tidak akan ditemukan selamanya. Jubah Sramana akan berubah warna menjadi putih. Ketika DharmaKu musnah, polanya diibaratkan seperti lampu minyak yang menyala sangat terang sesaat sebelum padam. Demikian juga Dharma saya akan seperti padamnya lampu tersebut. Setelah itu susah dikatakan dengan pasti apa yang akan terjadi berikutnya." "Jadi ini akan berlanjut sampai beberapa puluh juta tahun kemudian. Saat Maitreya akan lahir di dunia untuk menjadi Buddha yang berikut, segenap bumi ini akan damai. Hawa jahat pun menghilang, hujan akan turun teratur, panen akan berlimpah. Pohon akan tumbuh sangat tinggi dan manusia akan tumbuh setinggi delapan puluh kaki (24 meter). Umur rata-rata akan menjadi 84.000 tahun. Makhluk hidup yang terbebaskan tak terhitung jumlahnya." Ananda bertanya kepada Buddha, "Apa yang kita sebutkan untuk Sutra ini dan bagaimanakah kita akan menegakkannya?" Buddha berkata, "Ananda, Sutra ini disebut Sutra Kelenyapan Dharma. Beritahu semua orang agar menjadi maklum; berkah dari perbuatanmu tak akan terhitung." Setelah mendengar penjelasan Buddha tentang Sutra ini, keempat golongan siswa menjadi sedih dan menangis. Mereka semua bertekad mencapai kesucian menyelami kebenaran. Setelah bersujud kepada Buddha, mereka kembali ke tempat masing-masing.

Sutra Sapta Koti Baghavati Hrdaya Mahacundi Dharani



Sutra Sapta Koti Baghavati Hrdaya Mahacundi Dharani

Suatu saat, Yang Terberkahi, Sakyamuni Buddha sedang berdiam di dekat Shravasti, pada taman Anathapindada di hutan Jeta. Pada saat itu Sang Tathagata merenungkan dan mengamati para makhluk hidup di masa mendatang. Dengan perasaan yang penuh welas asih kepada mereka, Sang Tathagata memutuskan untuk menjelaskan secara terperinci Cundi Dharani, hati ibu dari tujuh koti para Buddha. Lalu Sakyamuni Buddha menyatakan mantra :

NAMO SAPTANAM SAMYAKSAMBUDDHA KOTINAM TADYATHA: OM, CALE, CULE, CUNDI SVAHA.


Bila ada bhiksu, bhiksuni, upasaka, atau upasika menjunjung tinggi dan menjapa dharani ini 800,000 kali, semua pelanggaran karma mematikan yang dibuat sejak masa tak berawal dapat dilenyapkan. Individu tersebut akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan semua Buddha dan Bodhisattva dimanapun ia lahir, dan akan terberkati dengan sekumpulan karma baik sesuai dengan yang diinginkannya. Dia juga akan mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan lingkaran tumimbal lahir dalam setiap kehidupannya, menegakkan ajaran dan sumpah para Bodhisattva. Individu tersebut akan selalu lahir pada alam manusia dan alam dewa, serta terhindar dari berjumpa dengan kelahiran di jalan kejahatan, dan selalu dilindungi oleh makhluk surgawi. Bila terdapat umat awam menjunjung tinggi dan menjapa dharani atau mantra ini , maka rumah tangganya akan selalu terhindar dari penderitaan dan malapetaka, serta penyakit. Semua yang dilakukan oleh orang tersebut akan selalu menguntungkan. Kata-katanya akan dipercaya dan diterima oleh orang lain. Bila seseorang selesai menjapa mantra tersebut 200,000 kali, dia akan bermimpi bertemu dengan para Buddha, Bodhisattva, PratyekaBuddha, dan Sravaka, serta melihat zat berwarna hitam keluar dari mulutnya. Sebaiknya seseorang dengan pelanggaran karma berat, ketika sedang membaca mantra tersebut 200,000 kali dia akan bermimpi bertemu dengan para Buddha dan Bodhisatva dan dalam mimpinya akan mengeluarkan zat berwarna hitam. Bila seseorang telah melakukan salah satu dari lima pelanggaran sila yang mematikan (Panca Garukha Karma) , dan tidak mendpatkan mimpi yang luar biasa ini, disarankan untuk membaca mantra ini 700,000 kali. Setelah itu, orang tersebut akan mendapatkan mimpi yang luar biasa dan pertanda. Ketika seseorang bermimpi suatu pasta berwarna putih seperti lem kanji yang tebal, maka hal itu mengindikasikan bahwa dia telah mendapatkan pemurnian karma. Sekarang saya akan membabarkan apa saja kegunaan maha - dharani ini. Seseorang sebaiknya berdiri didepan patung Buddha atau diatas tanah bersih didepan stupa. Tuangkan Gomaya (=kotoran sapi, di India dianggap sebagai bersih dan murni) diatas tanah dan buatlah altar mandala berbentuk kotak. Hiasi mandala tersebut dengan bunga, dupa, kanopi, makanan, lampu, dan lilin. Sesuaikan dengan ukuran mandala. Lakukan persembahan ini sesuai dengan kapasitas seseorang. Lalu japa mantra dan semprotkan parfum ke empat penjuru, serta atas dan bawah, untuk membuat proteksi spiritual. Letakkan sebotol parfum pada tiap-tiap sudut dan pada pusat altar mandala. Praktisi harus memasuki mandala dengan berlutut dan menghadap ke timur. Japa mantra 1080 kali dan botol parfum akan berputar dengan sendirinya. Peganglah berbagai macam bunga dengan kedua tangan, dengan posisi saling menyilang. Orang tersebut akan melihat penampakan para Buddha dan Bodhisattva. Japa lagi mantra tersebut 108 kali dalam bunga-bunga dan lemparkan ke udara sebagai sebuah persembahan (kepada para Buddha). Tanyakan semua jenis pertanyaan, dan pertanyaan tersebut akan terjawab. Bila seseorang harus mengidap suatu penyakit karena berhadapan dengan makhluk gaib, japa mantra tersebut ke dalam rumput cogon dan sapukan rumput cogon tersebut ke pasien. Pasien tersebut seharusnya akan sembuh. Bila seorang anak kecil kesurupan hantu, ambilah benang lima warna, dan suruhlah seorang gadis muda untuk memintal benang tersebut menjadi sebuah benang. Ambillah benang lima warna tersebut dan ikatkan simpul, sambil japakan mantra, sampai sebanyak 21 simpul. Ikatkan benang dengan 21 simpul tersebut ke leher anak kecil tersebut. Japakan mantra sebanyak 7 kali ke dalam segenggam biji mustard dan lemparkan biji mustard ke wajah anak kecil tersebut. Anak tersebut akan sembuh dari kesurupan. Aplikasi lain dari mantra dan termasuk metodenya: 1.Untuk orang yang kesurupan hantu, pada saat orang tersebut hadir, gambarkan ciri-ciri tubuh dari orang tersebut pada selembar kertas. Japa mantra ini pada batang dahan willow dan pukulkan gambar tersebut pada orang sakit dengan batang dahan willow. Ini akan menyembuhkan pasien dari penyakitnya. Bila pasien berada pada tempat yang jauh, japa mantra ini ke batang dahan willow tujuh kali, dan kirimkan orang lain dengan batang tersebut. Suruh orang tersebut menggambar ilustrasi pasien dan pukulkan gambar tersebut kepada pasien dengan batang. Ini akan menyembuhkan pasien dari sakitnya. 2.Bila seseorang menjapa mantra ini ketika sedang dalam perjalanan, dia tidak akan perlu takut berjumpa dengan pencuri, perampok, dan binatang buas. 3.Bila seseorang secara konstan membaca mantra ini, dia akan memenangkan segala macam percekcokan. Bila seseorang menyeberangi lautan, japalah mantra ini dan dia tidak akan bertemu dengan gangguan yang disebabkan makhluk-makluk jahat yang ada di lautan. 4.Bila seseorang dikurung dan tangannya diikiat, japalah mantra ini, dan dia akan dibebaskan. 5.Bila terdapat sebuah negara yang menderita karena banjir, kelaparan, atau wabah penyakit menular.Siapkan krim susu, biji wijen, dan beras mengkilat yang tidak lengket. Gunakan tiga jari, ambil masing-masing seporsi dari bahan tersebut untuk menyiapkan adonan. Japa mantra tersebut ke dalam adonan, dan lemparkan ke dalam api. Lakukan hal ini terus-menerus selama 12 jam, selama 7 hari dan semua malapetaka akan dilenyapkan. 6.Buatlah sebuah mandala stupa diatas pasir dipinggiran sungai sambil japakan mantra. Lakukan ini sebanyak 600,000 kali. Seseorang akan melihat Bodhisatva Kuan Yin atau Tara. Atau mungkin dia akan melihat Vajrapani. Apa yang anda doakan pada saat ini akan terpenuhi. Seseorang akan mendapatkan pengobatan spiritual atau mendapatkan prediksi pencapaian keBuddhaan. 7.Bila anda mengitari gambar pohon bodhi searah jarum jam dan menjapa mantra ini sampai 10 juta kali, anda akan menyaksikan seorang Bodhisatva membabarkan dharma kepadamu dan diijinkan untuk mengikuti bodhisatva tersebut. 8.Bila anda melakukan persembahan makanan dan sering menjapa mantra ini, anda akan terbebaskan dari berbagai manusia jahat atau anjing liar. Bila anda pada awalnya menyelesaikan mantra ini di depan pagoda, atau patung Buddha, atau stupa dan sesudah itu melakukan persembahan yang sangat besar pada tanggal 15 suklapaksa (Yang Terang, tengah bulan pertama dalam satu bulan), japa mantra selama satu hari sambil berpuasa makanan, anda akan bertemu dengan Vajrapani dan mendapat undangan untuk pergi ke istananya. 9.Bila anda berdiri didepan sebuah stupa menegakkan tanda dimana roda dharma pertama diputar, atau stupa didirikan dimana Buddha lahir, atau stupa didirikan dimana penerus Buddha langkah berharga dari Surga Triyamsa, atau semua stupa yang berisikan relik, mengitari stupa tersebut searah jarum jam dan menjapa mantra ini. Anda akan melihat Bodhisattva Aparajita dan Bodhisattva Hariti. Keinginanmu akan terpenuhi. Bila anda memerlukan pengobatan secara spiritual, maka hal itu akan diberikan kepadamu, dan anda juga akan mendapatkan ceramah pada jalan Bodhisattva. 10. Bila ada seseorang yang menjapa mantra ini tidak berada pada tempat yang suci, maka ia akan menerima sebuah kunjungan dari semua bodhisatvva, tanpa menghiraukan dimana dia berada. Maha Cundi dharani ini adalah mantra yang penuh kilauan, dan dijelaskan secara terperinci oleh para Buddha di masa lampau, dan akan dijelaskan oleh para Buddha pada masa mendatang. Kenyataannya, para Buddha pada saat ini menjelaskan mantra ini, seperti yang kulakukan hari ini. Hal ini perlu dilakukan untuk menguntungkan setiap makhluk sehingga mereka mencapai penerangan sempurna. Bila ada suatu makhluk yang kurang pahala dan memiliki akar karma baik sedikit, dan tidak memiliki kapasitas natural dan faktor pedukung yang cukup untuk pencerahan akan sangat beruntung menerima dharani ini. Dia akan melaju dengan cepat mencapai penerangan sempurna (Anuttara-Samyak-Sambodhi). Bila seseorang secara konstan ingat untuk menjapa mantra ini, akar-akar karma baik tak terbatas akan matang menuju ke pencapaian. Ketika Buddha membabarkan Cundi Dharani , makhluk hidup yang tak terbatas jumlahnya terangkat dari kekotoran batin, dan menerima karma baik dari Maha Cundi Dharani, Mantra Maha Terang dan menyaksikan kehadiran para Buddha, Bodhisattva dan makhluk-makhluk suci dari sepuluh penjuru, sebelum mereka bernamaskara dan meninggalkan pertemuan.

Senin, 08 November 2010

Mantra Hati Manjusri


Pahala dan Kebajikan Mantra Hati Manjusri


Bila putra dan putri yang berbudidapat menjapa mantra inimenjapa satu kali berarti memasuki sarvadharma Tathagata yang samathaMemahami bahwa semua aksara pd hakekatnya adalah sama rata dan segera merealisasikan Mahaprajna. Pada saat menjapa mantra inihendaknya para siswa membentuk mudra kedua telapak merangkap vajrajari tengah berdiri membentuk seperti pedangtebarkanlah bunga pada mandala utk pujana. Kemudian hendaknya mengatakan Pintu Dharma hati ini adalah rahasya paling unggul dari Para tathagata, jangan meremehkannya apalagi mengungkapkannya pada orang dungu yang tak memiliki keyakinan, karena itu akan menghancurkan sila samaya, renungkanlah dengan seksama.

/ A (A) adalah tak terlahirkan
/ La (Ra) adalah bersih suci tanpa noda.
/ Ba (Pa) adalah tiada kebenaran yang nomor satu, karena sarva Dharma adalah sama rata.
/ Zha (Tsa) adalah sarvadharma pada hakekatnya tiada unsur.
/ Na (Na) adalah sarvadharma tanpa rupa.

semua yang dikatakan adalah tidak dapat diartikan. Karena "Na" berarti tiada rupa, "Zha" tiada unsur, "Ba" tiada kebenaran nomor satu. Oleh karena Ba adalah tiada kebenaran nomor satu, maka "La" tiada kekotoran. Olehkarena "LA" tiada kekotoran, maka "A" bermakna Dharma pada hakekatnya tidak lahir (abhava).

Putra yang berbudi
Renungkanlah bahwa hati itu hakekatnya suci tanpa noda, tiada perbedaan mengenai konsep"aku". Yang dapat memasuki metode ini dinamakan merealisasi samadhi, merupakan bhavana yang sejati.

Ketahuilah bahwa orang tersebut telah disahkan oleh Tathagata, memiliki pahala unggul tak terkira.

Oleh karena itu, menjapa satu kali akan melenyapkan semua dukha, menjapa dua kali berarti melenyapkan dosa berat sejak berkalpa kalpa lampau. (mohon diperhatikan, hasil tersebut hanya dapat dicapai oleh yang telah memasuki samadhi makna sejati mantra Manjusri)

Menjapa tiga kali akan memunculkan samaya.
menjapa 4 kali tidak akan melupakan semua Dharma.
Menjapa 5 kali akan dengan cepat mencapai anutarra Samyaksambodhi.

Bila dapat sepenuh hati menyendiri atau melakukan penyepian (suatu kondisi yang tidak terombang ambing oleh kondisi luar), membuat mandala lima aksara cakra, menjapakan sesuai dengan Tata Cara Dharma selama 1 bulan, Manjusri Bodhisattva akan menampakkan diri Nya,

Atau Sang Bodhisattva akan berada di angkasa membabarkan Dharma, saat itulah sadhaka akan memperoleh kemampuan mengingat kehidupan lampau, memiliki kefasihan berbicara tanpa rintangan dan rddhividhijnanam yang leluasa.

Ia akan segera menyempurnakan tekad , serta terpenuhi prajna dan berkahnya. Segera merealisasikan Dharmakaya Tathagata. Bagi yang menerimanya dengan penuh keyakinan, dalam 16 kehidupan pasti akan mencapai kesempurnaan.

Mendirikan mandala memberikan pujana dupa dan bunga serta menggambar adinata, menggunakan stupa sarira yang dibuat dari tanah liat wangi, ditulisi aksara sansekerta 5 suku kata mantra, mengitari stupa dan menjapa sebanyak 500ribu kali, Manjusri Bodhisattva muncul di hadapan dan membabarkan Dharma, saat itu akan memperoleh kemampuan mengingat kehidupan lampau dan kefasihan berbicara, Para tathagata Para Bodhisattva dan Para Vajrapani serta suciwan yang banyaknya bagaikan butiran pasir sungai gangga, senantiasa memberikan dukungan sehingga segera terkabul apa yang menjadi harapannya. Ia akan segera mencapai Bodhi, seperti yang telah diungkapkan dalam Vajrausnisa Sutra.

Pada saat itu, Vajrapani Bodhisattva dan para Bodhisattva lainnya, datang di hadapan Vairocana Buddha dan masing masing menjapakan mantra hati.

Manjusri Bodhisattva Mahasattva, bangkit dari duduk Nya dan mengatakan pada Buddha : "Baghavan! saat ini aku demi member manfaat pada semua makhluk di masa akan datang, supaya segera merealisasikan Mahaprajnaparamita. Bila orang menjapa satu kali, maka bagaikan menjapa 84000 12 Kitab Veda ( Veda adalah kumpulan berbagai kitab yang berisi pengetahuan semesta, termasuk juga sains, matematika, kesehatan dan lain lain) .Bila sepenuh hati menjapa 2 kali, selalu disertai oleh Manjusri , Samanthabadra dan 4 Kelompok Suciwan akan selalu melindungi. Para Dewata kebajikan Pelindung Dharma yang Welas asih akan bmelindungi di depan sadhaka untuk mengenyahkan rasa takut.

Kemudian Arya Ananda bersujud dan berkata kepada Manjusri Bodhisattva : "Mohon babarkanlah Mantra tersebut!”

Ada milyaran Buddha yang hadir, dan masing masing Buddha itu di tiap pori Nya memunculkan milyaran Bodhisattva, tiap tiap Bodhisattva pada tiap pori Nya memunculkan milyaran Rajanaga, masing masing Rajanaga tiap porinya memunculkan Puteri Naga, masing masing Puteri Naga tiap porinya memunculkan milyaran gajah biru, masing masing gajah biru tiap porinya memunculkan gajah putih, masing masing gajah putih tiap porinya memunculkan gajah wangi, masing masing gajah wangi tiap porinya memunculkan gajah gunung, masing masing gajah gunung tiap porinya memunculkan aula mestika, masing masing aula mestika memunculkan kolam delapan pahala, kolam tersebut terbuat dari 4 ratna. Tiap kolam mestika memunculkan milyaran sinar emas cendana jambudvipa, tiap sinar memunculkan miliyaran milyaran sinar bundar, pada tiap cahaya bundar muncul milyaran dewi membawa berbagai macam pujana. Kasaya dipersembahkan untuk empat kelompok suciwan, dan pasamuan pujana yang diselenggarakan saat itu, Semua bersama-sama menjapakan mantra tersebut.

Jumat, 08 Oktober 2010

Sutra Dharani Marici Bodhisatva



Fó shuō mólì zhī tiān tuóluóní zhòu jīng
Sutra Dharani Marici Bodhisatva

Taisho Tripitaka No 1256

Diterjemahkan oleh Lianhua Shian

(Sutra Dewi Marici ini adalah versi yang lebih panjang ; Baik versi singkat maupun versi panjang semua boleh digunakan)



Rúshì wǒwén. Yīshí pó gā pó. Zài shě wèi guó zhǐ shù gěi gūdú yuán. Yǔ dà bǐqiū zhòng qiān èrbǎiwǔ shí rén jù.
Demikianlah yang aku dengar, pada suatu ketika Sang Baghavan sedang berada di Taman Jetavana, Sravasthi. Dengan disertai para bhikshu utama sebanyak seribu dua ratus lima puluh orang .

便
Ěr shí shìzūn gào zhū bǐqiū. Yǒu tiān míng mólì zhī tiān. Chángxíng rì yuè qián. Bǐ mólì zhī tiān. Wúrén néngjiàn wúrén néng zhuō. Bù wéi rén qī kuáng bù wéi rén fù. Bù wéi rén zhài qí cáiwù. Bù wéi yuàn Jiā néng dé qí biàn.
Kemudian, Sang Baghavan memberitahukan kepada para bhikshu, “Ada seroang Dewi bernama Marici Dewi. Senantiasa berjalan di depan matahari dan rembulan. Dewi Marici ini, tiada yang dapat melihat, tiada yang dapat menangkap. Tidak dapat dicurangi dan dibohongi, serta tiada yang dapat mengikatnya. Tiada yang dapat mengambil hartanya, tiada yang dapat mencelakainya.”

便
Fó gào zhū bǐqiū. Ruò yǒurén zhī bǐ mólì zhī tiān míng zhě. Bǐ rén yì bùkě jiàn yì bùkě zhuō. Bù wéi rén qī kuáng bù wéi rén zhài qí cáiwù. Bù wéi yuàn jiā néng dé qí biàn.
Buddha memberitahukan kepada para bhikshu, “Bila ada orang yang mengetahui nama Dewi Marici (beryukta), maka ia tidak akan bisa dilihat dan tak bisa ditangkap. Orang lain tidak akan bisa mencurangi, membohongi, maupun mengambil hartanya. Musuh tidak akan mampu mencelakainya.”

便
Fó gào zhū bǐqiū. Ruò yǒu shàn nánzǐ shàn nǚrén. Zhī bǐ mólì zhī tiān míng zhě. Yìng zuò shì yán. Wǒ dìzǐ mǒu yǐ. Zhī bǐ mólì zhī tiān míng gù. Wúrén néngjiàn wǒ wúrén néng zhuō wǒ. Bù wéi rén néng qī kuáng wǒ bù wéi rén néng fù wǒ. Bù wéi rén néng zhài wǒ cáiwù. Bù wéi yuàn jiā néng de wǒ biàn.
Sang Buddha memberitahukan kepada para bhikshu, “Bila ada putera maupun puteri yang berbudi, mengetahui nama Dewi Marici , hendaknya mengucapkan doa ini :

Saya siswa (nama), oleh karena mengetahui nama agung dari Dewi Marici, maka tiada yang akan mampu melihatku maupun menangkapku. Tidak akan ada orang yang sanggup mencurangi, mengelabui maupun mengikatku. Tiada orang yang dapat mengambil harta bendaku. Tiada musuh yang dapat mencelakaiku.”



Ěr shí shìzūn gào zhū bǐqiū. Shì mólì zhī tiān yǒu tuóluóní zhòu. Néng shǒuhù rén jí shuō zhòu yuē.
Kemudian Sang Baghavan memberitahukan kepada para bhikshu, “Dewi Marici mempunyai Dharanimantra yang dapat memberikan perlindungan, demikianlah mantranya :


Duō zhí tā. È jiā mó sī. Mò jiā mó sī. Zhī póluó mó sī. Zhī póluó mó sī. Mó hē zhī póluó mó sī. Ān tuó lì tuó nà mó sī
Duozhita. Ajiamosi . Mojiamosi. Zhipoluomosi. Zhipoluomosi. Mohezhipoluomosi. Antuolituonamosi.

(kemudian langsung dilanjutkan dengan mantra doa dibawah ini:)

護我。時。
Yú xínglù zhōng hù wǒ. Fēixíng lù zhōng hù wǒ. Zhòu rì zhōng hù wǒ yèzhōng hù wǒ. Yú yuàn jiāzhōng hù wǒ yú wángnánzhōng hù wǒ. Yú zéi nán zhōng hù wǒ. Yú shuǐnán zhōng hù wǒ yú huǒnán zhōng hù wǒ. Yú Yìbìng zhōng hù wǒ yú ā jiū lì ā jiū lì wú lì zhī dì. Jílì jílì āndì āndì yú yīqiè chù yīqiè shí. Hù wǒ dìzǐ mǒu yǐ. Suōpóhē.
Lindungilah aku dalam perjalanan, demikian pula lindungilah aku walau tidak sedang dalam perjalanan. Lindungilah aku dari sakit penyakit.
Ajiuli Ajiuli Wulizhidi .Jili Jili . Andi Andi. Setiap saat dimanapun, lindungilah siswa (nama), Svaha”


Fó gào zhū bǐqiū. Ruò yǒu shàn nánzǐ shàn nǚrén. Bǐqiū bǐqiūní yōu pó sāi yōu pó yí. Guówáng dàchén jí zhū rénmín. Wén shì mólì zhī tiān tuóluóní zhòu. Yīxīn shòu chí zhě. Bù wéi rúshàng zhū è suǒ hài.
Buddha memberitahukan kepada para bhikshu, “Bila ada putera puteri yang berbudi, bhikshu – bhiksuni, upasaka – upasika, raja, pejabat, maupun semua rakyat, yang mendengarkan Maricidevidharanimantra, dengan sepenuh hati menjapakannya, maka mereka tidak akan dicelakai oleh berbagai hal buruk tadi.”

滿
Fó gào zhū bǐqiū. Ruò yǒu shàn nánzǐ shàn nǚrén. Shūxiě shì jīngshòu chí dú sòng zhě. Yīxīn zhāijiè jìng zhì yī shì. Yǐ xiāng ní tú dì. Qī rì qīyè sòng chí shì mólì zhī tiān tuóluóní zhòu. Mǎn yī bǎi bā biàn . Suǒ jīng zhū zhèn yīqiè yuàn zéi. Bìng jiē xi rèn.
Buddha memberitahukan kepada para bhikshu , “Bila ada putera puteri yang berbudi, menuliskan , menerima dan melafalkan sutra ini, dengan sepenuh hati melakukan upavasa dan menjaga kesucian sila. Di tempat yang bersih, melapisi lantai dengan lumpur wangi (untuk jaman sekarang mgkn maksudnya adalah mengepel lantai supaya bersih dan wangi), selama tujuh hari tujuh malam menjapakan Maricidevidharanimantra, genap seratus delapan kali, semua perampok di jalan yang dilewatinya akan sirna.”

身行。退經。滿
Xíng shí shūxiě shì tuóluóní. Ruò yǒuzhe jì zhōng ruò zhuó yī zhōng suíshēn háng. Yīqiè zhū è bùnéng jiāhài. Xījiē tuìsàn wú gǎndāng zhě. Ruò yù jíbìng. Dāng qǐng yī jìng jiè bǐqiū jí bǐqiūní yōu pó sāi yōu pó yí. Rú qián Jìng zhì yī shì xiāng ní tú dì. Shāo zhǒngzhǒng míng xiāng shè qī pán guǒ bǐng. Bù wǔsè yā shè wǔsè fàn. Qǐng mólì zhī tiān. Rán dēng xù míng qī rì qīyè. Sòng shì mólì zhī tiān tuóluóní zhòu jīng. Mǎn èr Bǎi biàn. Yīqiè bìng guǐ jiēshēng cí xīn. Fàng yú bìngrén jí de chú chà.
“Saat hendak melakukan perjalanan, tuliskanlah dharani ini, apabila disematkan kedalam rambut, atau dalam pakaian, kemanapun selalu dibawa, maka segala macam petaka tidak akan dapat melukainya, semua akan sirna tiada yang berani merintangi. Bila jatuh sakit, undanglah seorang bhikshu-bhikshuni, upsaka-upasika yang menjaga kesucian sila, kemudian seperti tata cara yang dibabarkan sebelumnya, yaitu di tempat yang bersih, lapisilah lantai dengan lumpur wangi, bakarlah berbagai dupa berkualitas, haturkanlah pujana berbagai buah dan kue sebanyak tujuh piring, letakkan lima warna nasi kedalam lima warna wadah. Mengundang Dewi Marici , menyalakan pelita selama tujuh hari tujuh malam, melafalkan Maricidevidharanimantrasutra ini genap dua ratus kali, semua setan penyakit akan timbul rasa belas kasihan, kemudian melepaskan si sakit sehingga memperoleh kesembuhan.”


Ruò zāo xiàn guān suǒ jū lù zhě. Yì rú qián jìng shì rú fǎ shè gōng fū zuò. Rán dēng xù míng qī rì qīyè. Sòng shì mólì zhī tiān tuóluóní zhòu jīng wǔ bǎi biàn. De rúyuàn yǐ shè zhāi sǎn zuò. Yīqiè Ènàn wú bùmiè chú.

Bila hendak ditangkap oleh pemimpin yang jahat, lakukanlah seperti petunjuk sebelumnya mengenai tempat dan pujana, kemudian duduklah, nyalakan pelita selama tujuh hari tujuh malam, lafalkanlah Maricidevidharanimantrasutra sebanyak lima ratus kali, setelah keinginan terpenuhi, lakukanlah upavasa dan duduklah di tempat tersendiri. Segala macam petaka tidak ada yang tidak sirna.”


Ěr shí zhū bǐqiū wén fú suǒ shuō. Jiēdàhuānxǐ xìn shòu fèng chí.
Setelah para bhikshu mendengarkan pembabaran dari Sang Buddha, semua diliputi suka cita, meyakini dan mempraktekkannya.


Fó shuō mólì zhī tiān tuóluóní zhòu jīng
Demikianlah Sutra Dharani Devi Marici yang disabdakan Oleh Sang Buddha.


九月初九 摩利支天菩薩聖誕

Hari Raya Marici Bodhistva adalah setiap tanggal sembilan bulan sembilan Penanggalan Lunar

Segala Pahala Kebajikan dari pembabaran Dharma di blog ini, seluruhnya dipersembahkan kepada Mula Guru Dharmaraja Lian Sheng, semoga Dharmaraja Lian Sheng selamanya menetap di dunia, dan memutar Roda Dharma dalam bentuk kendaraan besar dan kecil untuk berbagai tingkat kemampuan dalam motivasi semua makhluk yang ada saat ini. Semoga saya dapat segera mencapai Pencerahan Sempurna demi semua makhluk. Semoga semua makhluk yang hidup di Samsara dapat berjodoh dengan Buddha Dharma, mempraktekkan Dharma, setelah memperoleh pengetahuan, dapat mengalahkan musuh - musuh yang berbahaya, dari ketiga racun, dan dapat mencapai Pencerahan

Om Mani Padme Hum

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara Sedharama, Lian Hua Shi An yang telah menerjemahkan sangat banyak Materi Dharma dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia, yang mana hasil terjemahannya sangat banyak yang saya post di blog ini

Manjusri Mantra

Music


Music